Selasa, 08 November 2016

Objek Wisata Monkey Forest Ubud

Objek Wisata Ubud Monkey Forest
 Tempat Wisata Ubud Monkey Forest

Profil Monkey Forest Ubud

            Desa Pakraman Padangtegal, dengan luas area sekitar 1.28 km2, merupakan tempat tinggal 2.415 orang, yang banyak berprofesi sebagai seniman dan petani. Penduduk Desa Pakraman Padangtegal dibagi menjadi tiga banjar, yaitu Banjar Padangtegal Kaja, Banjar Padangtegal Mekarsari, and Banjar Padangtegal Kelod. 
Monkey Forest di Padangtegal, Ubud dikelola oleh Desa Padangtegal. Pengelolaan Mandala Wisata Wenara Wana atau umum disebut Monkey Forest adalah upaya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan integritas suci dari hutan habitat asli monyet dan mempromosikannya sebagai situs suci yang terbuka untuk pengunjung dari seluruh dunia.
            Pada tahun 1986, hanya 800 orang per bulan (rata-rata) yang mengunjungi Monkey Forest. Saat ini, Monkey Forest mampu menarik hingga 10.000 pengunjung per bulan. Meskipun pengelola Wenara Wana Padangtegal menerima dengan baik kedatangan wisatawan yang semakin banyak, pengelola juga mengakui ada dampak negatif yang mempengaruhi sumber daya hutan.
Di Wanara Wana ini juga terdapat sebuah mata air. Mata air ini terletak di bawah sebuah patung komodo dan dipandang sebagai mata air yang suci. Penduduk setempat percaya bahwa air suci ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
           
Pura
Berdasarkan analisa dari Pura Purana (buku suci yang terbuat dari lontar yang merupakan barang bersejarah dari pura setempat), Pura Kera suci ini dibangun sekitar pertengahan abad ke-14, saat itu kerajaan dikuasai oleh dinasti Gelgel.
Ada tiga pura yang berada di kawasan Mandala Suci Wenara Wana:
  • PURA DALEM AGUNG, berlokasi di barat daya kawasan. Pura ini adalah tempat memuja Tuhan (Hyang Widhi) dalam personifikasinya sebagai Dewa Siwa atau Hyang Pendaur Ulang.
  • Di barat laut kawasan, anda akan menemukan PURA BEJI. Pura ini  adalah tempat memuja Tuhan (Hyang Widhi) dalam personifikasinya sebagai Dewi Gangga. Pura ini adalah tempat pensucian sebelum dilangsungkannya upacara (piodalan). Pura Beji juga sering digunakan untuk melukat sebagai pembersihan lahir dan bathin secara spiritual.
  • Pura ketiga adalah PURA PRAJAPATI. Pura ini terletak di timur laut kawasan. Pura ini berdampingan dengan kuburan. Di Pura ini umat Hindu memuja Tuhan (Hyang Widhi) dalam personifikasinya sebagai Prajapati. Perlu diketahui, kuburan yang ada, digunakan untuk sementara waktu sambil menunggu saat dilaksanakannya ngaben massal yang diadakan setiap 5 tahun sekali.
Mereka bisa menikmati indahnya bangunan kuno yang berumur sangat tua. Arsitektur dan berbagai ornamen pura juga sangat mengagumkan.
Oleh sebab itu, hutan kera ini memang dikenal sebagai kuburan Bali yang suci. Terkadang ada upacara keagamaan atau adat tertentu seperti upacara pembakaran mayat Ngaben. Pura-pura yang berada di tengah hutan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.






Kera Bali
Kera-kera yang hidup di dalam tempat yang aman dan damai ini dinamakan kera Bali yang juga dikenal dengan nama kera ekor panjang. Nama ilmiahnya adalah macaca fascicularis.
Sekitar 300 kera Bali biasanya berada di sekitar hutan ini, terdiri dari sekitar 35 ekor kera jantan, 95 ekor kera betina, dan 170 ekor anak kera. Kera-kera Bali ini tinggal berpindah-pindah dalam 3 kawasan yang terdiri dari jantan dan betina. Setiap hari masing-masing kelompok kera ini selalu berpindah tempat dan menguasai daerah yang berbeda di dalam hutan. Karena populasinya cukup banyak terkadang konflik terjadi ketika ada dua kelompok ingin menguasai satu daerah yang sama.
Jantan muda beratnya sekitar 8-10kilogram dan memiliki gigi yang cukup besar, di puncak dan bagian muka mereka ditumbuhi jenggot. Sedangkan betina muda memiliki bentuk tubuh yang lebih kecil sekitar 4-8kilogram dan mempunyai rambut yang lebih panjang.
Kera Bali berada dalam kelompok yang sebagian besar terdiri dari kera betina(matrilines). Kera jantan biasanya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bersosialisasi dengan betina yang lain. Masing-masing kera jantan dan betina mempunyai dominasi hubungan tetapi mereka tidak selalu konsisten.
Pembuahan dapat terjadi sepanjang tahun namun pertumbuhannya terjadi sekitar bulan Mei-Agustus. Induk kera Bali ini sangat menjaga bayi kera mereka, bahkan kera betina yang tidak melahirkan juga turut menjaga bayi kera itu bersama-sama. Namun terkadang anda juga dapat melihat kera jantan dewasa juga menjaga bayi-bayi kera tersebut layaknya kera betina.
Dalam pemeliharaannya baik mengenai kesehatan maupun populasi pihak pengelola telah mengadakan kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Satwa Primata Universitas Udayana. Selain itu juga dilakukan kerja sama dengan Central Washington University, Guam University serta Taiwan University. Objek wisata Monkey Forest juga memiliki tambahan satwa 14 ekor rusa yang merupakan sumbangan dari pihak ketiga dan hasil pengembangbiakan. 
Kera-kera yang terdapat di hutan tersebut bukan hanya menjadi komponen penting dalam spiritual dan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, tapi juga erupakan lokasi penting bagi riset dan program konservasi. Pengelolaan dan penataan khusus yang telah dilakukan dalam kawasan ini sangat mendorong para peneliti dari lembaga-lembaga riset diseluruh dunia untuk mengadakan penelitian. Khususnya dalam bidang interaksi antara makhluk hidup dan kera yang ada di tempat yang nyaman ini, merupakan topik untuk survei dan bahan untuk penelitian ilmiah.

Hutan
Kehadiran hutan suci adalah suatu demonstrasi koeksistensi harmonis manusia dan alam. Di Bali, tempat-tempat suci seperti Monkey Forest biasanya di wilayah desa yang sakral, sering dikelilingi oleh candi. Ini suaka budaya tidak hanya merupakan bagian penting dari warisan Bali, tetapi juga merupakan bagian penting dari hidup sehari-hari. Upacara yang rutin diselenggarakan bagi warga desa dan para dewa di daerah tersebut.
Sebuah candi Bali lebih dari sekedar kumpulan pagoda dan paviliun. Daerah tertutup oleh dinding candi dan kawasan hutan sekitarnya adalah suci. Pura-pura dan hutan sangat penting untuk memperbarui kontak dengan dunia spiritual. Aktivitas yang berhubungan dengan daerah ini penting dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan kosmos. Tidak hanya roh-roh leluhur dan dewa-dewa persembahan diberikan dan doa, tetapi juga roh-roh pohon dan patung-patung di Monkey Forest diberikan persembahan dan doa oleh Pemangku dan warga desa setempat.
Beberapa pohon-pohon ini dianggap suci dan digunakan dalam berbagai praktek-praktek spiritual Bali. Contohnya termasuk Majegan, yang digunakan secara eksklusif untuk membangun kuil, atau Berigin, yang daunnya digunakan dalam upacara kremasi.
Signifikansi khusus adalah Bandak Pule, sebuah pohon yang mewujudkan semangat hutan, dan digunakan dalam pembuatan masker kuat. Topeng ini hanya digunakan di dalam kuil, dan pohon-pohon tidak dibunuh untuk membuat mereka. Sebuah hari baik dipilih dan Imam meminta izin dari semangat pohon untuk memotong sepotong kecil kayu nya. Semangat sehingga tetap diwujudkan dalam topeng.
Pengelolaan
PADANGTEGAL – UBUD 
Pengelolaan kawasan wisata kera di Padangtegal dikelola oleh desa adat dengan membentuk badan desa. Pihak pengelola sendiri menggunakan filosofi Tri Hita Karana. Konsep hidup dalam menghargai, menjaga keharmonisan keberadaan alam dengan makhluk hidup ciptaan-Nya serta aktivitas spiritual masyarakat di sekitarnya menjadikan kawasan Mandala Wisata Wenara Wana (Monkey Forest) sebagai kawasan yang indah, asri dan lestari, nyaman dan aman serta mempunyai taksu.
Implementasi dari konsep Tri Hita Karana yang diterapkan di objek wisata Monkey Forest dapat dilihat dari dua kegiatan ritual yang kerap dilakukan oleh masyarakat setempat. Dalam hubungannya dengan keberadaan kera, setiap Tumpek Kandang masyarakat membuatkan sesajen istimewa ke hutan kepada semua binatang yang ada di sana. Sedangkan saat Tumpek Nguduh, masyarakat setempat melakukan ritual untuk tetap menjaga keharmonisan alam berupa tumbuh-tumbuhan yang ada di sana.
Sementara itu, sejak keberadaan objek wisata Monkey Forest yang pengembangannya mulai tahun sekitar 1970 kondisinya jauh berbeda dengan keberadaannya saat ini. Di awal terjamahnya kawasan hutan yang dipenuhi dengan binatang kera ini luput dari perhatian. Sebuah kotak "Dana Punia" yang disediakan prajuru untuk sekadar sumbangsih di dalam membiayai kegiatan upacara dan pemeliharaan kawasan tersebut. Besarnya tingkat kunjungan wisatawan yang ingin melihat kera Bali di kawasan tersebut menjadikan kawasan Monkey Forest sangat potensial. Dari potensi yang ada tersebut dalam melakukan pengembangan lebih lanjut. Dalam usaha melestarikan keberadaan objek waisata, maka setiap pengunjung dikenakan tiket masuk. 
Keseriusan desa adat untuk mengelola objek wisata ini dapat dilihat dari semakin profesionalnya manajemen pengelolaan. Kawasan Monkey Forest dalam hal ini tidak hanya sebagai objek wisata. Namun seiring dengan pengembangannya, pihak desa adat kini sedang berupaya untuk membuka keberadaan daerah wisata Monkey Forest dengan segala potensi desa yang ada. Salah satunya adalah dengan mendirikan Pusat Data dan Informasi Desa Adat Padangtegal.
Bahkan, untuk lebih menunjang promosi pariwisata Monkey Forest telah membuat sebuah website, yang bisa diklik setiap saat yakni www.monkeyforestubud.com. Di mana nantinya diharapkan dapat memfasilitasi masyarakat ataupun masyarakat untuk mengakses informasi yang lebih lengkap. Pihak desa adat maupun manajemen Mandala Wisata Wenara Wana ke depan menginginkan mengembangkan lebih luas dengan merangkul potensi desa yang ada dengan mempromosikan hal-hal yang terkait dengan pariwisata misalnya seni dan kerajinan, ataupun pendukung lainnya seperti penginapan dan restoran sebagai seatu sinergi.
Objek wisata Monkey Forest saat ini sedang dilakukan pengembangan areal hutan di bagian belakang objek wisata. Dalam hal ini konsep hutan yang dilakukan pengembangan nantinya menyerupai kawasan Bedugul. Di mana selain hutan dengan pohon yang tinggi nantinya juga ada rumput yang menghias di bawahnya. Di kawasan tersebut nantinya pengunjung yang datang bisa bercengkrama dengan keluarga sambil menikmati keindahan hutan dengan binatang keranya.

Lokasi Ubud Monkey Forest
Ubud Monkey Forest terletak di Jalan Monkey Forest Ubud, Bali. Jika di tempuh dengan kedaraan dari Bandara Internasional Ngurah Rai, akan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Banyak tempat wisata di ubud Bali yang tak kalah menariknya untuk di kunjungi, seperti :
  • Sawah terasering di Tegalalang Ubud
  • Tempat wisata rafting di Sungai Ayung Ubud
  • Tampak Siring ( Istana Presiden ) dll.
Aktivitas Tempat Wisata Ubud Monkey Forest
Kegiatan yang bisa di lakukan di tempat wisata Ubud Monkey Forest, antara lain :
  1. Berjalan santai di sepanjang jalan di dalam hutan lindung monkey forest sambil menikmati suasana sejuk dan menyaksikan canda monyet yang bergelayut di pepohonan.
  2. Memberi makan kera - kera yang lucu, Disini anda bisa memberi makanan kepada kera - kera yang anda bisa dapatkan di dekat pintu masuk loket pembayaran seperti kacang- kacangan, pisang, atau buah lainnya.
  3. Befoto dengan kera, Kera- kera di tempat wisata Ubud Monkey Forest notabene kera yang tidak agresif. Anda bisa mengabadikan berfoto dengan kera.
Informasi Umum Ubud Monkey Forest
Jam Buka : 08.00 - 18.00
Harga tiket masuk : Rp. 20.000 / orang (sewaktu-waktu bisa berubah)
Staff Selalu Siaga : Di sini anda akan di bantu oleh staff yang berkeliling di area Ubud Monkey Forest jika ada yang di perlukan. Misal, untuk mengabadikan foto dengan kera di pundak Anda, Staff akan mengarahkan kera ini ke atas pundak Anda dengan memberikan makanan.


Transportasi Ubud Monkey Forest
Sarana transportasi di tempat wisata Ubud Monkey Forest tidak tersedia jasa taksi meter. Jika anda menginap di hotel dekat Ubud Monkey Forest, Anda bisa mengunjungi tempat wisata di Ubud ini dengan berjalan kaki atau dengan naik motor. Dan jika anda belum memiliki kendaraan anda bisa memakai jasa sewa mobil murah di Bali dengan sopir atau tanpa sopir. Atau anda bisa mengikuti paket liburan murah di Bali, seperti Ubud Tour.

Denah Tempat Wisata Ubud Monkey Forest
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0ylecUp2X8T4JgzXmQ7n706YcA85W8RJbB_JuG-dOVqigliPdlt741IY0f5d601hUrJHG6CSfRnwYbSGM6AU7UMT4ACB98ln4Ua1DtQiJWnoJuX26oPPktXmi0tV3TZnbDfV2AkZZtOY/s1600/Denah+Ubud+Monkey+Forest.jpg

Tips Saat Mengujungi Ubud Monkey Forest
  • Simpanlah barang - barang berharga anda di dalam tas seperti Kaca mata, Anting - anting, Kalung, Gelang, Handphone, dsb. Karena barang - bara seperti itu akan menarik minat kera untuk mengambilnya.
  • Jangan memukul atau menyakiti kera meskipun kera itu kecil karena jika anda menyakitinya maka akan datang kera - kera yang lainnya menyerang anda.
  • Berjalanlah di jalan yang sudah di sediakan, Karena jika anda berjalan di tempat lain ini akan memancing kera marah karena memasuki wilayahnya mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar