Objek Wisata
Ubud Monkey Forest
Profil Monkey Forest Ubud
Desa
Pakraman Padangtegal, dengan luas area sekitar 1.28 km2,
merupakan tempat tinggal 2.415 orang, yang banyak berprofesi sebagai seniman
dan petani. Penduduk Desa Pakraman Padangtegal dibagi menjadi tiga banjar,
yaitu Banjar Padangtegal Kaja, Banjar Padangtegal Mekarsari, and Banjar
Padangtegal Kelod.
Monkey Forest
di Padangtegal, Ubud dikelola oleh Desa Padangtegal. Pengelolaan Mandala
Wisata Wenara Wana atau umum disebut Monkey Forest adalah upaya untuk
mengembangkan dan mengimplementasikan integritas suci dari hutan habitat asli
monyet dan mempromosikannya sebagai situs suci yang terbuka untuk pengunjung
dari seluruh dunia.
Pada
tahun 1986, hanya 800 orang per bulan (rata-rata) yang mengunjungi Monkey
Forest. Saat ini, Monkey Forest mampu menarik hingga 10.000 pengunjung per
bulan. Meskipun pengelola Wenara Wana Padangtegal menerima dengan baik
kedatangan wisatawan yang semakin banyak, pengelola juga mengakui ada dampak
negatif yang mempengaruhi sumber daya hutan.
Di Wanara Wana
ini juga terdapat sebuah mata air. Mata air ini terletak di bawah sebuah patung
komodo dan dipandang sebagai mata air yang suci. Penduduk setempat percaya
bahwa air suci ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Pura
Berdasarkan analisa dari Pura Purana
(buku suci yang terbuat dari lontar yang merupakan barang bersejarah dari pura
setempat), Pura Kera suci ini dibangun sekitar pertengahan abad ke-14, saat itu
kerajaan dikuasai oleh dinasti Gelgel.
Ada tiga pura yang berada di kawasan
Mandala Suci Wenara Wana:
- PURA
DALEM AGUNG, berlokasi di barat daya kawasan. Pura ini adalah tempat
memuja Tuhan (Hyang Widhi) dalam personifikasinya sebagai Dewa Siwa atau
Hyang Pendaur Ulang.
- Di
barat laut kawasan, anda akan menemukan PURA BEJI. Pura ini adalah
tempat memuja Tuhan (Hyang Widhi) dalam personifikasinya sebagai Dewi
Gangga. Pura ini adalah tempat pensucian sebelum dilangsungkannya upacara
(piodalan). Pura Beji juga sering digunakan untuk melukat sebagai
pembersihan lahir dan bathin secara spiritual.
- Pura
ketiga adalah PURA PRAJAPATI. Pura ini terletak di timur laut kawasan.
Pura ini berdampingan dengan kuburan. Di Pura ini umat Hindu memuja Tuhan
(Hyang Widhi) dalam personifikasinya sebagai Prajapati. Perlu diketahui,
kuburan yang ada, digunakan untuk sementara waktu sambil menunggu saat
dilaksanakannya ngaben massal yang diadakan setiap 5 tahun sekali.
Mereka bisa menikmati indahnya bangunan kuno yang berumur
sangat tua. Arsitektur dan berbagai ornamen pura juga sangat mengagumkan.
Oleh sebab itu,
hutan kera ini memang dikenal sebagai kuburan Bali yang suci. Terkadang ada
upacara keagamaan atau adat tertentu seperti upacara pembakaran mayat Ngaben.
Pura-pura yang berada di tengah hutan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi
para wisatawan.
Kera Bali
Kera-kera yang hidup di dalam tempat
yang aman dan damai ini dinamakan kera Bali yang juga dikenal dengan nama kera
ekor panjang. Nama ilmiahnya adalah macaca fascicularis.
Sekitar 300 kera Bali biasanya
berada di sekitar hutan ini, terdiri dari sekitar 35 ekor kera jantan, 95 ekor
kera betina, dan 170 ekor anak kera. Kera-kera Bali ini tinggal
berpindah-pindah dalam 3 kawasan yang terdiri dari jantan dan betina. Setiap
hari masing-masing kelompok kera ini selalu berpindah tempat dan menguasai
daerah yang berbeda di dalam hutan. Karena populasinya cukup banyak terkadang
konflik terjadi ketika ada dua kelompok ingin menguasai satu daerah yang sama.
Jantan muda beratnya sekitar
8-10kilogram dan memiliki gigi yang cukup besar, di puncak dan bagian muka
mereka ditumbuhi jenggot. Sedangkan betina muda memiliki bentuk tubuh yang
lebih kecil sekitar 4-8kilogram dan mempunyai rambut yang lebih panjang.
Kera Bali berada dalam kelompok yang
sebagian besar terdiri dari kera betina(matrilines). Kera jantan biasanya
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk bersosialisasi dengan
betina yang lain. Masing-masing kera jantan dan betina mempunyai dominasi
hubungan tetapi mereka tidak selalu konsisten.
Pembuahan dapat terjadi sepanjang
tahun namun pertumbuhannya terjadi sekitar bulan Mei-Agustus. Induk kera Bali
ini sangat menjaga bayi kera mereka, bahkan kera betina yang tidak melahirkan
juga turut menjaga bayi kera itu bersama-sama. Namun terkadang anda juga dapat
melihat kera jantan dewasa juga menjaga bayi-bayi kera tersebut layaknya kera
betina.
Dalam pemeliharaannya baik mengenai
kesehatan maupun populasi pihak pengelola telah mengadakan kerja sama dengan
Lembaga Penelitian dan Pengkajian Satwa Primata Universitas Udayana. Selain itu
juga dilakukan kerja sama dengan Central Washington University, Guam University
serta Taiwan University. Objek wisata Monkey Forest juga memiliki tambahan
satwa 14 ekor rusa yang merupakan sumbangan dari pihak ketiga dan hasil
pengembangbiakan.
Kera-kera yang terdapat di hutan
tersebut bukan hanya menjadi komponen penting dalam spiritual dan dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, tapi juga erupakan lokasi penting
bagi riset dan program konservasi. Pengelolaan dan penataan khusus yang telah
dilakukan dalam kawasan ini sangat mendorong para peneliti dari lembaga-lembaga
riset diseluruh dunia untuk mengadakan penelitian. Khususnya dalam bidang
interaksi antara makhluk hidup dan kera yang ada di tempat yang nyaman ini,
merupakan topik untuk survei dan bahan untuk penelitian ilmiah.
Hutan
Kehadiran hutan
suci adalah suatu demonstrasi koeksistensi harmonis manusia dan alam. Di Bali,
tempat-tempat suci seperti Monkey Forest biasanya di wilayah desa yang sakral,
sering dikelilingi oleh candi. Ini suaka budaya tidak hanya merupakan bagian
penting dari warisan Bali, tetapi juga merupakan bagian penting dari hidup
sehari-hari. Upacara yang
rutin diselenggarakan bagi warga desa dan para dewa di daerah tersebut.
Sebuah candi
Bali lebih dari sekedar kumpulan pagoda dan paviliun. Daerah tertutup oleh
dinding candi dan kawasan hutan sekitarnya adalah suci. Pura-pura dan hutan
sangat penting untuk memperbarui kontak dengan dunia spiritual. Aktivitas yang
berhubungan dengan daerah ini penting dalam menjaga keharmonisan antara
manusia, alam dan kosmos. Tidak hanya roh-roh leluhur dan dewa-dewa persembahan
diberikan dan doa, tetapi juga roh-roh pohon dan patung-patung di Monkey Forest
diberikan persembahan dan doa oleh Pemangku dan warga desa setempat.
Beberapa
pohon-pohon ini dianggap suci dan digunakan dalam berbagai praktek-praktek
spiritual Bali. Contohnya termasuk Majegan, yang digunakan secara eksklusif
untuk membangun kuil, atau Berigin, yang daunnya digunakan dalam upacara
kremasi.
Signifikansi
khusus adalah Bandak Pule, sebuah pohon yang mewujudkan semangat hutan, dan
digunakan dalam pembuatan masker kuat. Topeng ini hanya digunakan di dalam
kuil, dan pohon-pohon tidak dibunuh untuk membuat mereka. Sebuah hari baik
dipilih dan Imam meminta izin dari semangat pohon untuk memotong sepotong kecil
kayu nya. Semangat sehingga tetap diwujudkan dalam topeng.
Pengelolaan
PADANGTEGAL – UBUD
Pengelolaan kawasan wisata kera di
Padangtegal dikelola oleh desa adat dengan membentuk badan desa. Pihak
pengelola sendiri menggunakan filosofi Tri Hita Karana. Konsep hidup dalam
menghargai, menjaga keharmonisan keberadaan alam dengan makhluk hidup
ciptaan-Nya serta aktivitas spiritual masyarakat di sekitarnya menjadikan
kawasan Mandala Wisata Wenara Wana (Monkey Forest) sebagai kawasan yang indah,
asri dan lestari, nyaman dan aman serta mempunyai taksu.
Implementasi dari konsep Tri Hita
Karana yang diterapkan di objek wisata Monkey Forest dapat dilihat dari dua
kegiatan ritual yang kerap dilakukan oleh masyarakat setempat. Dalam
hubungannya dengan keberadaan kera, setiap Tumpek Kandang masyarakat membuatkan
sesajen istimewa ke hutan kepada semua binatang yang ada di sana. Sedangkan
saat Tumpek Nguduh, masyarakat setempat melakukan ritual untuk tetap menjaga
keharmonisan alam berupa tumbuh-tumbuhan yang ada di sana.
Sementara itu, sejak keberadaan
objek wisata Monkey Forest yang pengembangannya mulai tahun sekitar 1970
kondisinya jauh berbeda dengan keberadaannya saat ini. Di awal terjamahnya
kawasan hutan yang dipenuhi dengan binatang kera ini luput dari perhatian. Sebuah
kotak "Dana Punia" yang disediakan prajuru untuk sekadar sumbangsih
di dalam membiayai kegiatan upacara dan pemeliharaan kawasan tersebut. Besarnya
tingkat kunjungan wisatawan yang ingin melihat kera Bali di kawasan tersebut
menjadikan kawasan Monkey Forest sangat potensial. Dari potensi yang ada
tersebut dalam melakukan pengembangan lebih lanjut. Dalam usaha melestarikan
keberadaan objek waisata, maka setiap pengunjung dikenakan tiket masuk.
Keseriusan desa adat untuk mengelola
objek wisata ini dapat dilihat dari semakin profesionalnya manajemen
pengelolaan. Kawasan Monkey Forest dalam hal ini tidak hanya sebagai objek
wisata. Namun seiring dengan pengembangannya, pihak desa adat kini sedang
berupaya untuk membuka keberadaan daerah wisata Monkey Forest dengan segala
potensi desa yang ada. Salah satunya adalah dengan mendirikan Pusat Data dan
Informasi Desa Adat Padangtegal.
Bahkan, untuk lebih menunjang
promosi pariwisata Monkey Forest telah membuat sebuah website, yang bisa diklik
setiap saat yakni www.monkeyforestubud.com. Di mana nantinya diharapkan dapat
memfasilitasi masyarakat ataupun masyarakat untuk mengakses informasi yang
lebih lengkap. Pihak desa adat maupun manajemen Mandala Wisata Wenara Wana ke
depan menginginkan mengembangkan lebih luas dengan merangkul potensi desa yang
ada dengan mempromosikan hal-hal yang terkait dengan pariwisata misalnya seni
dan kerajinan, ataupun pendukung lainnya seperti penginapan dan restoran
sebagai seatu sinergi.
Objek wisata Monkey Forest saat ini
sedang dilakukan pengembangan areal hutan di bagian belakang objek wisata.
Dalam hal ini konsep hutan yang dilakukan pengembangan nantinya menyerupai
kawasan Bedugul. Di mana selain hutan dengan pohon yang tinggi nantinya juga
ada rumput yang menghias di bawahnya. Di kawasan tersebut nantinya pengunjung
yang datang bisa bercengkrama dengan keluarga sambil menikmati keindahan hutan
dengan binatang keranya.
Lokasi Ubud Monkey Forest
Ubud Monkey Forest terletak di Jalan Monkey Forest Ubud, Bali. Jika di
tempuh dengan kedaraan dari Bandara Internasional Ngurah Rai, akan memakan
waktu kurang lebih 1,5 jam. Banyak tempat wisata di ubud Bali yang tak kalah
menariknya untuk di kunjungi, seperti :
- Sawah terasering di Tegalalang
Ubud
- Tempat wisata rafting di Sungai
Ayung Ubud
- Tampak Siring ( Istana Presiden
) dll.
Aktivitas Tempat Wisata Ubud Monkey Forest
Kegiatan yang bisa di lakukan di tempat wisata Ubud
Monkey Forest, antara lain :
- Berjalan santai di sepanjang
jalan di dalam hutan lindung monkey forest sambil menikmati suasana sejuk
dan menyaksikan canda monyet yang bergelayut di pepohonan.
- Memberi makan kera - kera yang
lucu, Disini anda bisa memberi makanan kepada kera - kera yang anda bisa
dapatkan di dekat pintu masuk loket pembayaran seperti kacang- kacangan,
pisang, atau buah lainnya.
- Befoto dengan kera, Kera- kera
di tempat wisata Ubud Monkey Forest notabene kera yang
tidak agresif. Anda bisa mengabadikan berfoto dengan kera.
Informasi Umum Ubud Monkey Forest
Jam Buka : 08.00 - 18.00
Harga tiket masuk : Rp. 20.000 / orang (sewaktu-waktu bisa berubah)
Staff Selalu Siaga : Di sini anda akan di bantu oleh staff
yang berkeliling di area Ubud Monkey Forest jika ada yang di perlukan. Misal,
untuk mengabadikan foto dengan kera di pundak Anda, Staff akan mengarahkan kera
ini ke atas pundak Anda dengan memberikan makanan.
Transportasi Ubud Monkey Forest
Sarana transportasi di tempat wisata Ubud Monkey
Forest tidak tersedia jasa taksi meter. Jika anda menginap di hotel
dekat Ubud Monkey Forest, Anda bisa mengunjungi tempat wisata di
Ubud ini
dengan berjalan kaki atau dengan naik motor. Dan jika anda belum memiliki
kendaraan anda bisa memakai jasa sewa mobil murah di Bali dengan
sopir atau tanpa sopir. Atau anda bisa mengikuti paket liburan murah di
Bali, seperti Ubud Tour.
Denah Tempat Wisata Ubud Monkey Forest
Tips Saat Mengujungi Ubud Monkey Forest
- Simpanlah barang - barang
berharga anda di dalam tas seperti Kaca mata, Anting - anting, Kalung,
Gelang, Handphone, dsb. Karena barang - bara seperti itu akan menarik
minat kera untuk mengambilnya.
- Jangan memukul atau menyakiti
kera meskipun kera itu kecil karena jika anda menyakitinya maka akan
datang kera - kera yang lainnya menyerang anda.
- Berjalanlah di jalan yang sudah
di sediakan, Karena jika anda berjalan di tempat lain ini akan memancing
kera marah karena memasuki wilayahnya mereka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar