PERKEMANGAN
AGAMA HINDU DI BALI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Agama Hindu merupakan agama tertua di Dunia dan memiliki
sifat yang universal dan flexiblelitas yang tinggi. Permulaan berkembangnya
agama ini dimulai dari Jambu Dwipa yaitu negara India. Dalam penyebarannya,
Agama Hindu dipelopori oleh Para Mahayogi/maharsi yang dimana beliau adalah
orang-orang yang menerima langsung ajaran-ajaran Agama dari Tuhan yang kemudian
diajarkan kepada umat manusia.
Dalam penyebarannya, agama Hindu dimulai dari daerah
tetangga India, dan lama-kelamaan menyebar keseluruh dunia. Dalam hal ini ada
banyak pemeran dalam penyebaran Agama Hindu seperti halnya para pedagang dari
Indi, mereka menyeberang lautan, dan singgah di negara-negara konsumen, sembari
berdagang, para pedagang india mengajarkan ajaran Agama hindu, selain itu Penyebaran
Agama Hindu juga dilakukan oleh para brahmana yaitu guru-guru spiritual yang
melakukan suatu perjalanan jauh, dan di tempat persinggahannya mereka membuat
suatu Pesraman dan disanalah para maharsi mengajarkan Agama Hindu.
Di Indonesia masuknya Agama Hindu diawali dengan
berdirinya Kerajaan-kerajaan Hindu yaitu dimulai dari Kerajaan Kutai yang
merupakan kerajaan pertama di Indonesia dan juga bercorak Hindu.Seiring dengan
berjalannya waktu, kerajaan Hindu di Indonesia semakin meluas sampai ke
pelosok-pelosok daerah. Jaman Kerajaan Majapahit adalah puncak kejayaan
Kerajaan Hindu di Indonesia dan sekaligus kerajaan Hindu terakhir di Indonesia
setelah berhasil druntuhkan oleh Kerajaan agama lain.
Namun perjalan Hindu tidak berakhir seperti halnya
Kerajaan majapahit yang runtuh, setelah runtuhnya kerajaan majapahit, sebagian
dari pemeluk agama Hindu di Jawa berhasil menyelamatkan diri ke Bali bersama
dengan ajaran-ajaran yang dibawa. Di Balilah Agama Hindu berkembang pesat dan
hampir 99 % penduduknya memeluk Agama Hindu. Berkembangnya Agama Hindu di Bali
juga tidak lepas dari ajaran-ajaran Agama Hindu yang masuk bersama masuknya
para tokoh Hindu ke bali.
Dalam karya tulis ini penulis mengambil judul " Masuknya
Agama Hindu Oleh Para Maharsi Ke-Bali "yang dimana nantinya
akan membahas tentang perkembangan Gama Hindu di Bali, tokoh-tokoh penyebar
Agama Hindu di bali, dan perkembangan Agama Hindu setelah runtuhnya
kerajaan-kerajaan Hindu di Bali.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana Awal Perkembangan Agama Hindu di Bali ?
1.2.2 Siapakah Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam
Penyebaran Agama Hindu di Bali ?
1.2.3. Bagaimana Perkembangan Agama Hindu Setelah
runtuhnya Kerajaan kerajaan di Bali sampai sekarang ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1.3.1 Untuk mendeskripsikan Awal Perkembangan Agama
Hindu di Bali
1.3.2 Untuk mendeskripsikan Tokoh-Tokoh
yang Berperan dalam Penyebaran Agama Hindu di Bali
1.3.3 Untuk mendeskripsikan Perkembangan Agama Hindu
Setelah runtuhnya Kerajaan-kerajaan di Bali
sampai sekarang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Awal Perkembangan Agama Hindu di
Bali
Masuknya agama Hindu di Bali diperkirakan sebelum abad
ke-8 Masehi, karena pada abad ke-8 telah dijumpai fragmen-fragmen prasasti yang
didapatkan di Pejeng berbahasa Sanskerta. Ditinjau dari segi bentuk hurufnya
diduga sejaman dengan meterai tanah liat yang memuat mantra Buddha yang dikenal
dengan “Ye te mantra”, yang diperkirakan berasal dari tahun 778 Masehi. Pada
baris pertama dari dalam prasasti itu menyebutkan kata “Sivas.......ddh.......” yang
oleh para ahli, terutama Dr. R. Goris menduga kata yang sudah haus itu
kemungkinan ketika utuh berbunyi: “Siva Siddhanta”. Dengan demikian pada abad
ke-8 , Paksa (Sampradaya atau Sekta) Siva Siddhanta telah berkembang di Bali.
Sampai ditulisnya sebuah prasasti tentunya menunjukkan agama itu telah
berkembang secara meluas dan mendalam diyakini oleh raja dan rakyat saat itu.
Meluas dan mendalamnya ajaran agama dianut oleh raja dan rakyat tentunya
melalui proses yang cukup panjang, oleh karena itu agama Hindu (sekta Siva
Siddhanta) sudah masuk secara perlahan-lahan sebelum abad ke-8 Masehi.Bukti
lain yang merupakan awal penyebaran agama Hindu di Bali adalah ditemukannya
arca Siva di pura Putra Bhatara Desa di desa Bedaulu, Gianyar. Arca tersebut
merupakan satu tipe (style) dengan arca-arca Siva dari candi Dieng yang berasal
dari abad ke-8 yang menurut Stutterheim tergolong berasal dari periode seni
arca Hindu Bali.
Dalam prasasti Sukawana, Bangli yang memuat angka 882
Masehi, menyebutkan adanya tiga tokoh agama yaitu Bhiksu Sivaprajna, Bhiksu
Siwa Nirmala dan Bhiksu Sivakangsita membangun pertapaan di Cintamani,
menunjukkan kemungkinan telah terjadi sinkretisme antara Siva dan Buddha di
Bali dan bila kita melihat akar perkembangannya kedua agama tersebut
sesungguhnya berasal dari pohon yang sama, yakni agama Hindu. Berkembangnya dan
terjadinya sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme di Bali sebenarnya diduga
lebih menampakkan diri pada masa pemerintahan raja besar Dharma Udayana
Varmadeva, karena kedua agama tersebut menjadi agama negara.
Bersamaan dengan datangnya agama Hindu ke Bali, pada abad
ke-8 juga dijumpai peninggalan-peninggalan yang menunjukkan masuknya agama
Buddha Mahayana. Bukti masuknya agama Buddha Mahayana di Bali dapat diketahui
dari stupika-stupika tanah liat yang tersebar di daerah Pejeng Selatan, Titiapi
dan Blahbatuh, Gianyar. Seluruh stupika di pura Penataran Sasih, Pejeng dapat
diselamatakan dan dipindahkan ke Museum Bali. Sekitar abad ke-13 Masehi, di
Bali berkembang pula sekta Bhairava dengan peninggalan berupa arca-arca
Bhairava di pura Kebo Edan Pejeng. Sekta ini mungkin berkembang sebagai akibat
adanya hubungan politis dengan kerajaan Singhasari (Singosari) di jawa Timur
pada masa pemerintahan raja Kertanegara. Berdasarkan data sejarah tersebut,
ternyata perkembangan awal kedatangan agama Hindu (Sivaisme) dan Buddha
(Mahayana) hampir pada saat yang bersamaman dan bahkan akhirnya agama Buddha
Mahayana ini luluh ke dalam agama Hindu seperti diwarisi di Bali saat ini.
Pada masa Bali Kuno merupakan masa tumbuh dan
berkembangnya agama Hindu yang mencapai kejayaan pada abad ke-10 dengan ditandai
oleh berkuasanya raja suami istri Dharma Udayana Varmadeva dan
Gunapriyadharmapatni. Pada masa pemerintahan raja ini terjadi proses Jawanisasi
di Bali, yakni prasasti-prasasti berbahasa Bali Kuno digantikan dengan bahasa
Jawa Kuno dan susastra Hindu berbahasa Jawa Kuno dibawa dari Jawa dan
dikembangkan di Bali. Saat itu di Bali berkembang ajaran Hindu yang disebut
sekta. Sekta-sekta yang berkembang di Bali, yang menurut penelitian Dr. R.Goris
(1926) dalam (http://kodoknyitnyit.blogspot.com ) jumlahnya 9 sekta, yang
terdiri dari : Siva Siddhanta, Pasupata, Bhairava, Vaisnava, Bodha (Soghata),
Brahmana, Rsi, Sora (Surya) dan Ganapatya. Sedangkan dalam beberapa lontar di
Bali disebutkannya 6 sekta (disebut Sad Agama), yang terdiri dari Sambhu,
Brahma, Indra, Bayu, Visnu dan Kala. Di antara seluruh sekta tersebut, rupanya
yang sangat dominan dan mewarnai kehidupan agama Hindu di Bali adalah Siva
Siddhanta dengan peninggalan beberapa buah lontar (teks) antara lain:
Bhuvanakosa, Vrhaspatitattva, Tattvajnana, Sang Hyang Mahajnana, Catur Yuga,
Vidhisastra dan lain-lain. Mudra dan Kutamantra yang dilaksanakan oleh para
pandita Hindu di Bali dalam aktivitas ritual pelaksanaan Pujaparikrama
bersumber pada ajaran Siva Siddhanta.
Masa Bali Kuno ini berakhir dengan pemerintahan raja
Astasura-ratnabhumibanten yang ditundukkan oleh ekspedisi Majapahit dibawah
pimpinan mahapatih Gajah Mada. Pada masa Bali Kuno ini (antara abad ke-10
sampai dengan ke-14) pertumbuhan agama Hindu demikian pesat. Pada masa
pemerintahan raja Dharma Udayana, seorang pandita Hindu bernama Mpu Rajakerta
menjabat Senapati I Kuturan (semacam perdana mentri) yang menata kehidupan
keagamaan dengan baik dan terwarisi hingga kini.
2.2 Tokoh-Tokoh
Penyebaran Agama Hindu di Bali
Dalam perkembangan Agama Hindu di bali terdapat enam
tokoh suci yang sangat berpeerran penting. Keenam tokoh suci itu antara lain:
2.2.1. DANGHYANG MARKANDEYA
Ilustrasi
Maharsi Markandeya
Rsi
Markandeya adalah seorang Maha Yogi yang sangat utama yang berasal dari
keturunan warga Bregu. Bheghawan Bregu adalah keturunan dari Hyang Jagatnatha
yang bergelar Sang Hyang Ratnamaya. Beliau adalah putra dari Sang yang Tunggal
yang menjaga dan menguasai dunia seluruhnya. Dikisahkan, Salah satu keturunan
Hyang Jagatnatha bernama Sang Hyang Rsiwu, beliau seorang Mahayogi yang amat
bijaksana mempunyai putra bergelar Sang Hyang Meru.
Sang
Hyang Meru mempunyai Putra Sang Ayati dan adiknya Sang Niata. Sang Ayati
mempunyai putra bernama Sang Prana , dan Sang Niata mempunyai putra bernama
Sang Markanda. Sang Markanda memperistri seorang gadis cantik dan sempurna
bernama Dewi Manswini. Inilah yang Melahirkan Sang Maharsi Markandeya. Rsi
Markandeya sangat tampan da mempunyai banyak ilmu, Lama beliau membujang dan
akhirnya memperistri Dewi Dumara. Dan mempunyai putra seorang bergelar Hyang
rsi Dewa Sirah.Rsi Dewa sirah memperistri Dewi Wipari. Rsi Markadeya adalah
titisan Dewa Surya yang berasal dari Negara Bharatawarsa ( India). Dan Beliau
berkeinginan mengembangkan ajaran Yoga beliau menuju daerah selatan India di
bagian timur Nusantara dengan beberapa murid beliau yang telah siap turun
gunung. Perjalanan beliau pertama menuju Gunung Dumalungdi Hyang yang disebut
gunung Hyang atau Dewata.
Namun
disana sudah ada pertapaan Sang Ila putra Rsi Trenawindhu yang merupakan murid
dari Sang Hyang Maharsi Agastya. Yang telah bertapa di tanah Jawa dan telah
berbaur dengan Sapta Rsi di sana. Dan itulah sebabnya Hyang Mahayogi Merkandeya
pergi ke tempat lain yaitu Gunung Raung,Jawa timur. Disana beliau bertapa dan membangun
pesraman,dan pada suatu hari Belau mendengar Sabda Dari Akasa Dan melihat sinar
menjulang ke Akasa, Sabda didengar dari leluhur Beliau Hyang Jagatnatha, dan
Sabda itu memerintahkan Mahayogi Markandeya pergike arah timur yaitu
Balipulina. Sebelah timur Tanah jawa, dan di Sabdakan itu karena di Bali Pulina
ada Stana Para Dewa yaitu di Gunung Tohlangkir ( Gunung Agung).Yang pada saat
itu disebut Giri Raja,Dalam Sabda beliau mendengar bahwa Gunung itu adalah
potongan Gunung Maha Meru yang di bawa hyang Pasupati untuk memngunci Dunia
saat itu.
Akhirnya
Mahayogi Markandeya pergi kea rah Timur Bali sesuai sabda dengan pengikutnya
sebanay 400 orang, Namun dalam perjalanan pertama ini, beliau mendapat Halangan
semua pengikutnya meninggal terserang penyakit, Karena mendapat halangan Beliau
kembali ke Gunung Raung Jawa, bersemedi untuk mohon petunjuk, Dari hasil semedi
beliau mandapat wahyu , kalau ingin selamat dalam perjalanan Dharmayatra ini
Harus menanam Panca Datu sebagai dasar Yadnya untuk keharmonisan dengan alam
Bali ini. Seterusnya beliau melakukan perjalanan ke dua kali dengan pengikut
800orang .Beliau berkehendak berdharmayatra menyebarkan ajaran ajaran Tri Sakti
paksa, terutama Waisnawa Paksa segala aturan Tatacara upacara dan upakaranya.
Dan Pada perjalanan ke dua ini., beliau menghaturkan Yadnya berupa penanaman
Panca Datu di Gunung Tohlangkir, sekarang disebut Besakih.
a.
Jejak Maha Rsi Markandeya di Bumi Parhyangan
Pura Murwa (Purwa) Bhumi menjadi tonggak pertama kali
Maharsi Markandeya menyebarkan ilmu keagamaan, menularkan ilmu teknologi
pertanian pada orang Aga yang tinggal di Payangan.
Kecamatan
Payangan yang berlokasi di belahan barat laut, Kabupaten Gianyar, selama ini
lebih banyak dikenal sebagai daerah pertanian, terutama penghasil buah leci.
Satu identitas yang sulit ditampik kenyataannya. Mengingat hanya di Payangan
jenis tanaman yang menurut cerita masyarakat Payangan berasal dari ngeri Tirai
Bambu, Cina, banyak bertumbuhan. Di balik potensi pertanian yang dimiliki,
kawasan yang berada sekitar 500 meter dari permukaan laut ini ternyata memiliki
banyak tempat suci tergolong tua. Satu di antaranya Pura Murwa Bhumi.
Lokasi
pura tua ini tak jauh dari pusat kota kecamatan. Kalau Anda berangkat dari
Denpasar hendak menuju Kintamani dan mengambil jalur jalan raya Payangan, maka
di satu tempat sebelah timur jalan, kurang lebih 500 meter sebelum Pasar
Payangan, coba sempatkan melihat ke arah kanan jalan (arah timur). Di sana
terpampang dengan jelas papan nama Pura Murwa Bhumi atau masyarakat sekitar ada
menyebut Purwa Bhumi. Dalam penjelasan Kelian Dinas Pengaji sekaligus menjadi
Kepala Desa Melinggih Kelod, I Made Suwardana, pura yang diempon warga Desa
Pengaji ini memiliki pertalian dengan kisah perjalanan seorang tokoh suci
Maharsi Markandeya, di tanah Bali Dwipa.
Seperti
banyak tersurat dalam lontar atau Purana, di antaranya lontar Markandeya
Purana, bahwa sang yogi Markandeya yang kawit hana saking Hindu (yogi Rsi
Markandeya berasal dari India), melakukan perjalanan suci menuju tanah
Jawadwipa. Beliau sempat beryoga semadi di Gunung Demulung, lalu berlanjut ke
Gunung Di Hyang—kelak Gunung Di Hyang dikenal dengan nama Gunung Dieng,
berlokasi di Jawa Tengah. Dari Gunung Dieng Rsi Markandeya meneruskan
perjalanan menuju arah timur ke Gunung Rawung yang terletak di wilayah
Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Di Gunung Rawung sempat membangun
pasraman, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bali. Di pulau mungil ini
Maharsi bersama pengikutnya merabas hutan dan membangun banyak tempat suci. Di
antaranya Pura Murwa Bhumi. Mengenai Pura Murwa Bhumi, tradisi lisan di
Payangan dan sekitarnya menyebutkan, tempat suci ini konon menjadi tempat
pertama kali Maharsi Markandeya memberikan pembelajaran kepada para
pengikutnya. Penegasan yang cukup masuk diakal, terutama bila dikaitkan dengan
nama tempat di mana pura tersebut dibangun, yakni Desa Pengaji.
Besar
kemungkinan nama Pengaji diambil dari satu tugas mulia Maharsi Markendya selama
berada di Payangan, yakni memberi pengajian (pembelajaran) pada orang-orang.
“Kehadiran Pura Murwa Bhumi ada tercatat di dalam prasasti,” sebut Cokorda Made
Ranayadnya, tetua dari Puri Agung Payangan, sekaligus pangempon di Pura Murwa
Bhumi. Satu di antaranya tertulis dalam prasasti Pura Besakih yang termuat di
Buku Eka Dasa Ludra. Dalam buku itu disebutkan secara singkat bahwa ada pura di
Payangan bernama Pura Murwa Bhumi. Dulu, warga sekitar sering menyebut Pura
Dalem Murwa.
Tak
beda jauh dengan penjelasan Cok Ranayadnya. Dalam buku Sejarah Bali Jilid I dan
II, karangan Gora Sirikan dan diterbitkan Nyoman Djelada, juga ada menerangkan,
kedatangan Rsi Markandeya yang kedua ke Bali dengan mengikutsertakan ribuan
orang dari Desa Aga, Jawa. Orang Aga ini dikenal sebagai petani kuat hidup di
hutan. Maharsi Markandeya mengajak pengikut orang Aga guna diajak merabas hutan
dan membuka lahan baru. Setelah berhasil menunaikan tugas, maka tanah lapang
itu dibagi-bagikan kepada pengikutnya guna dijadikan sawah, ladang, serta
sebagai pekarangan rumah. Tempat awal melakukan pembagian itu kelak menjadi
satu desa bernama Puwakan. Kini lokasinya di Desa Puwakan, Taro Kaja, Kecamatan
Tegallang, Kabupaten Gianyar.
Tentang
pembagian tanah dan kehadiran maharsi di Bali, dalam Markandya Purana ada
dijelaskan: Saprapta ira sang Yoghi Markandya maka di watek pandita Adji, mwah
wadwan ira sadya ring genahe katuju, dadya ta agelis sang Yoghi Markandya mwang
watek Pandita prasama anangun bratha samadhi, anguncar aken wedha samadhi, mwah
wedha pangaksamaning Bhatara kabeh, sang Pandita aji anguncar aken wedha
panulaks arwa marana, tarmalupengpuja samadhi, Dewayajna mwang Bhhutayajna,
Pratiwi stawa. Wus puput ngupacaraning pangaci aci, irika padha gelis wadwan
ira kapakon angrabas ikangwana balantara, angrebah kunang taru-taru, ngawit
saking Daksina ka Utara.
Reh
sampun makweh olih ngrabas ikang wana balantara, mwah dinuluran swecaning Hyang
tan hana manggih pasangkalan, Sang Yoghi Markandya anuduh akenwadwan ira
araryanrumuhun angrabas wana ika, tur wadwan ira sadaya, angangge sawah mwang
tegal karang paumahan…..,
Artinya:
Setibanya Sang Yoghi Markandya seperti juga para
Pandita Aji, bersama rakyatnya semua di tempat yang di tuju, maka segera Sang
Yoghi Markandya dan para pandita semuanya melakukan bratha samadi, dengan
mengucapkan wedha samadi, serta weda memohon perkenan Ida Batara semua, Sang
pandita Aji mengucapkan weda penolakan terhadap semua jenis hama dengan tak
melupakan puja samadhi, menyelenggarakan upacara Dewayajnya dan Bhutayajnya,
serta memuja Pertiwi. Setelah selesai melakukan pangaci-aci (melakukan
upacara), maka seluruh rakyatnya diperintahkan merabas hutan belantara
tersebut, menebang kayu-kayu, di mulai dari selatan setelah itu baru ke utara.
Atas
perkenan Tuhan Hyang Maha Kuasa, proses perabasan hutan tak mendapat halangan.
Karena sudah luas, maka Sang Yoghi Markandya memerintahkan rakyatnya untuk
berhenti melakukan perabasan hutan. Yoghi Markandya kemudian membagi-bagikan
lahan itu kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tanah tegalan, serta
pekarangan rumah.
Usai
melakukan pembagian tanah, Maharsi Markandeya kembali melakukan pertapaan di
satu tempat yang mula-mula diberi nama Sarwadha. Tempat dimaksud kini menjadi
Desa Taro, sedang Sarwadha, kini merupakan lokasi satu tempat suci cukup besar.
Sarwadha sendiri berasal dari kata sarwa (serba) dan ada, Jadilah serba ada,
artinya di tempat inilah segala keinginan tercapai, lantaran semua serba ada.
Setelah keinginan terpenuhi di Taro, Maharsi kemudian melanjutkan perjalanan
serta memindahkan tempat pertapaan ke arah barat. Pada satu lokasi yang masih
asri. Di tempat baru itu Beliau mendapat inspirasi (kahyangan) dari Tuhan,
makanya lamat-lamat tempatnya dinamakan kahyangan, kemudian berubah lagi
menjadi parhyangan, dan kini disebut Payangan.
Tempat
di mana rohaniwan mengelar pertapaan dibuat sebuah mandala srta didirikan
sebuah sebagai tempat memuja para dewa. Pura dimaksud diberi nama Murwa yang
artinya permulaan. Belum benderang betul kenapa pura yang diberi nama Purwa
atau Murwa (kini bernama Murwa Bhumi) disebut sebagai permulaan. Tiada tanda
jelas yang bisa dijadikan bukti otentik. Tapi, bila ditelaah lebih jelas, kata
Purwa sama dengan timur atau yang pertama. Di timur pertama kali matahari mulai
memancarkan sinarnya yang benderang. Di timur pula bulan kali pertama terbit.
Jika dikaitkan dengan perjalanan Maharsi di Payangan, boleh jadi di Pura Murwa
Bhumi-lah dijadikan tempat pertama oleh Maharsi Markandeya bertapa sekaligus
memberikan pembelajaran bagi para pengikut menyangkut agama dan cara-cara
berteknologi guna memperoleh kemakmuran. Makmur yang dimaksud zaman dulu, jelas
menyangkut cara bertani yang baik dan benar sehingga mampu mendapat hasil
bagus.
Tempat
suci yang diempon warga Desa Pakraman Pengaji, menurut Bandesa Pakraman Pengaji
Dewa Ngakan Putu Adnyana, masih memiliki beberapa peninggalan. Di antaranya
palinggih babaturan dan Gedong Bang yang menjadi stana Ida Rsi Markandeya.
“Dulu ada peninggalan terbuat dari batu yang dinamakan Bedau. Bentuknya
menyerupai perahu,” kata Ngakan Adnyana. Dari Bedau itu terus keluar air yang
biasa dimohon oleh warga guna dijadikan sarana pengobatan, terutama bila ada
ternak yang sakit. Sayang, tinggalan tua itu telah rusak dan sebagai pengingat
saja, warga mengganti dengan perahu batu baru.
Selain
tinggalan tua berupa palinggih, di Pengaji sampai saat ini masih berkembang
struktur masyarakat Bali Aga terutama menyangkut keagamaan, yang dinamakan Ulu
Apad (delapan tingkatan), mulai dari Kubayan, Kebau, Singgukan, Penyarikan,
Pengalian, pemalungan, Pengebat Daun, dan Pengarah. Warga yang tercatat dalam
struktur organisasi tradisional ini akan menunaikan tugas sesuai fungsi dan
jabatan yang dipegang.
b.
Tapak-tapak suci Sang Maharsi
Jejak
perjalanan Rsi Markandeya menelusuri tanah Balidwipa, banyak meninggalkan atau
ditandai oleh pembangunan tempat suci. Pura itu banyak yang menjadi sungsungan
jagat, tak sedikit pula yang di-emong warga desa pakraman. Tempat-tempat suci
yang berhubungan dengan Rsi Markandeya di Bali meliputi Pura Basukian di kaki
Gunung Agung (Gunung Tolangkir), tepatnya di Desa Besakih, Kecamatan Rendang,
Kabupaten Karangasem. Semula, lokasi pura merupakan tempat yajnya tempat Rsi
Markandeya menanam kendi yang berisi Pancadatu, lima jenis logam mulia. Seperti
perunggu, emas, perak, tembaga, dan besi. Tujuannya, supaya Maharsi beserta
pengikutnya mendapat keselamatan. Lamat-lamat komplek pura Basukian dikenal
dengan nama Besakih.
Berikutnya
ada Pura Pucak Cabang Dahat. Tempat suci ini berlokasi di Desa Puwakan, Taro,
Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Pura ini dibangun sebagai tanda
pertama kali Maharsi beserta pengikutnya melakukan perabasan hutan setelah
menggelar yajnya di kaki Gunung Agung. Setelah sukses merabas hutan, Maharsi
Markandeya kemudian membagi-bagikan lahan kepada pengikutnya guna dijadikan
pemukiman dan areal pertanian.
Masih
di wilayah Desa Taro, Rsi Markandeya juga membangun Pura Gunung Raung, sebagai
tempat panyawangan (perwakilan) Gunung Raung yang terdapat di Desa Sugih Waras,
Kecamatan Glanmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebab dari tempat itulah
pertama kali sang Rohaniwan mendapat wangsit sebelum datang ke Bali.
Di
kawasan Ubud ada dua tempat suci sebagai pertanda kedatangan Rsi Markandeya,
yakni Pura Pucak Payogan di Desa Payogan dan Pura Gunung Lebah di Campuhan,
Ubud, Kabupaten Gianyar. Setelah berhasil merabas hutan di Besakih, Rsi
Markandeya kemudian bersemadi. Dalam semadinya menemukan satu titik sinar
terang. Selanjutnya Rohaniwan ini menelusuri sinar yang ditemukan dalam
beryoga, hingga sampai pada satu tempat agak tinggi ditumbuhi hutan lebat. Pada
lokasi dimaksud Rsi Markandeya melakukan yoga semadi. Nah, di tempat Maharsi
beryoga itulah selanjutnya berdiri Pura Pucak Payogan. Sekitar dua kilometer
arah tenggara Pucak Payogan, tepatnya di Campuhan Ubud, Rsi Markandeya
mendirikan tempat suci Gunung Lebah. Pura ini dibangun sebagai tempat sang yogi
melakukan penyucian diri dari segala mala petaka atau tempat panglukatan dasa
mala.
Dalam
Bhuwana Tatwa Maharsi Markandeya ada ditegaskan:
“Mwah
ri pangiring banyu Oos ika hana Wihara pasraman sira rsi Markandya iniring para
sisyan ira, makadi kula wanduan ira sira sang Bhujangga Waisnawa….”
Artinya
: “Di pinggir sungai Oos itu terdapat sebuah Wihara sebagai pasraman Ida
Maharsi Markandeya disertai oleh muridnya, seperti sanak keluarga sang Bhujangga
Waisnawa”.
Ketika melanjutkan perjalanan ke wilayah Parhyangan
(Payangan), sesuai yang tersurat di buku Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini,
karangan Gde Sara Sastra, bahwa Maharsi Markandeya juga membangun tempat suci
Murwa (Purwa) Bhumi. Pura dimaksud berlokasi di Desa Pakraman Pengaji, dan
warga setempat meyakini di tempat itulah Maharsi dari India ini pertama kali
(Purwa) memberikan proses pembelajaran kepada para pengikutnya. Pelajaran yang
diberikan selain menyangkut agama juga tentang teknologi pertanian.
Setelah
berhasil memberikan pengajian, termasuk menjadikan masyarakat Aga di Payangan
sukses dalam mengelola pertanian, maka sang Maharsi kembali membangun tempat
suci yang diberinama Sukamerih (mencapai kesukaan). Letaknya tepat di seberang
jalan Pura Murwa Bhumi. Sesuai penjelasan Bandesa Pakraman Pengaji, Dewa Ngakan
Putu Adnyana, kedua pura tadi oleh warga Pengaji diyakini ada saling
keterkaitan. Maka, upacara keagamaan juga dilaksanakan secara bersamaan. Pura
Pucak Payogan,adalah Tempat Yoga Semadi Mahayogi Markkandeya. Dan Tempat ini
tempat beliau moksa sebagai akhir penjalanan Dharmayatra beliau.
2. MPU SANGKULPUTIH
Setelah
Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual
bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk
berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti
daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan
biji-bijian: beras, injin, kacang komak. Bentuk banten yang diciptakan antara
lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng,
tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu,
beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa
bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual. Di samping itu
beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh,
Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan
patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat
konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi
Tak
kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari
Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya :
Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll. Jabatan resmi beliau adalah
Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang
telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.
Murid Danghyang Markandeya ini
melanjutkan ajaran sang guru dengan memberikan warna/variasi pada bentuk bebali
yang ada dengan menambahkan dekorasi yang menarik dan beragam sesuai dengan
tujuan bebali itu disajikan dari berbagai jenis dedaunan, buah-buahan,
biji-bijian dan lain-lain sebagai ekspresi mengagungkan Sang Hyang Widhi. Beliau
juga mempelopori pembuatan arca (pralingga) dewa-dewa sebagai media yang
membantu umat untuk memfokuskan konsentrasi dalam melakukan puja demikian pula
dengan enetapan hari-hari penting ajaran Hindu Bali, seperti: Galungan,
Kungingan, Pagerwesi, Nyepi dan lain-lain.Dalam konteks pengaturan
bermasyarakat, tata pimpinan yang diperkenalkan beliau adalah jabatan Dukuh,
Prawayah dan Kabayan. Mpu
Sangkulputih adalah seorang sulinggih yang
bertanggung jawab di Pura Besakihdan
pura-pura atau tempat suci lainnya
yang telah didirikan oleh Danghyang
Markandeya.
Setelah
Danghyang Markandeya moksa,
Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan
membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis yadnya (banten) dengan
menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti:
·
daun sirih,
·
daun pisang,
·
daun janur,
·
buah-buahan:
·
pisang,
·
kelapa, dan
·
biji-bijian:
·
beras,
·
injin,
·
kacang komak.
2.
Canang tubugan,
3.
Canang raka,
7.
Tehenan,
9.
Lis,
10.
Nasi panca warna,
13.
Pungu-pungu,
15.
Ulap ngambe, dll.
Di
samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar
Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga
dan patung-patung Dewa yang
dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam
pemujaan Hyang Widhi.
Tak
kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di
Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya :
3. MPU
KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari
Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. Seperti
disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan
keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang
pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta,
Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte
tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56).
Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau
sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa
istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih
rendah.Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu
sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan
sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak
negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat
negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada
pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan
terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana
Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya
Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur. Oleh
karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk
mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:
a. Mpu Semeru,
dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan
dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu
tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.
b. Mpu Ghana, penganut
aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7
tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgel.
c. Mpu Kuturan,
pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon
wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau
tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)
d. Mpu Gnijaya,
pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan,
bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa
dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis
(Lempuyang).
Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur
bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan
di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan. Kelima orang
Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau
telah melaksanakan upacara “wijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”.
Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur
tiga kekuatan pada saat itu, yaitu :
a. Dari pihak
Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua siding
b. Dari pihak Ciwa
diwakili oleh Mpu Semeru
c. Dari pihak 6
sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas
bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai
aliran. Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri
Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak
dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi
Wasa.Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah
kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu
wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha. Semenjak
itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja
Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:
a. Pura Desa
Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang
Widhi Wasa (Tuhan)
b. Pura Puseh untuk
memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
c. Pura Dalem
untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai
perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
Ketiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang
menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali. Sekaligus dengan
dikristalisasinya seluruh sekta tersebut dalam pemujaan kepada Tri Murti
menjadi landasan dalam pembangunan Desa Krama (Pakraman) atau desa Adat di
Bali. Sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam
bidang politik, social, dan spiritual. Jika sebelum keempat Brahmana tersebut
semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu
mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura
yang diberi nama Pura Samuan Tiga.Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai
pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep
Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura
Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg
(Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.
Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal
(pangider-ider).
4. MPU
MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau
diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra
Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa
dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang
menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang
Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.
5. MPU
JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri
terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).
Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik
yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian
senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.
6. DANGHYANG
DWIJENDRA
Pada
akhir abad ke – 15, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Selain disebabkan
karena faktor dari dalam, yaitu perang saudara (Perang Paregreg) untuk menjadi
penguasa di Majapahit, faktor dari luar juga menjadi penyebab keruntuhan salah
satu kerajaan Hindu terbesar ini, yakni serangan dari Kerajaan Demak yang
beragama Islam. Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh
pengaruh agama Islam, dimana penduduk di Majapahit dan sekitarnya serta pulau
Jawa pada umumnya akhirnya beralih keyakinan ke Agama Islam. Orang – orang
Majapahit yang tidak mau beralih agama dari Hindu ke Islam akhirnya memilih
meninggalkan Majapahit. Mereka memilih tinggal di daerah Pasuruan, Blambangan,
Banyuwangi, dimana sebagian besar masyarakatnyamasih memeluk agama Hindu.
Selain itu beberapa diantara mereka bahkan menetap di daerah pegunungan,
seperti : Pegunungan Tengger, Bromo, Kelud, Gunung Raung (Semeru). Sedangkan
beberapa dari mereka yang masih tergolong arya dan para rohaniawan memilih
untuk pergi ke Bali, hal itu disebabkan karena saat itu di Bali pengaruh Agama
Hindu masih sangat kuat. Oleh karena itu mereka mencari perlindungan di Bali,
selain untuk melarikan diri dari Majapahit dan pengaruh Islam di Jawa.Salah
seorang dari rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang
Dwijendra. Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa
pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Danghyang Nirartha datang ke Bali
dalam rangka dharmayatra, akan tetapi dharmayatranya tidak akan pernah kembali
lagi ke Jawa. Karena di Jawa (Majapahit) Agama Hindu sudah terdesak oleh Agama
Islam. Namun kendatipun demikian, ternyata Danghyang Nirartha juga mempelajari
agama Islam, bahkan Beliau menguasai Agama Islam, tetapi keislamannya tidak
sempurna. Ini terbukti dari pengikut – pengikutnya, yaitu orang – orang Sasak
di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Telu (Islam Tiga).
Terlepas
dari hal tersebut, Danghyang Nirartha adalah penganut Agama Hindu yang
sempurna. Seperti para leluhurnya, Danghyang Nirartha memeluk Agama Siwa, yang
lebih condong ke Tantrayana. Agama Siwa yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha
adalah Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Tri Purusa, yaitu Paramasiwa,
Sadasiwa, dan Siwa. Dari tiga aspek ini Sadasiwalah yang diagungkannya. Untuk
itu, dibuatkanlah pelinggih khusus yakni Padmasana, dari sinilah Sadasiwa atau
Tuhan Yang Maha Esa,Yang Maha Kuasa, Yang Maha Ada, yang bersifat absolut, dan
dipuja oleh semuanya. Oleh karena itu, setiap pura harus memiliki pelinggihPadmasana. Dengan
demikian Danghyang Nirartha menjadi pembaharu Agama Hindu di Bali. Nirartha
merupakan pencipta arsitektur padmasana untuk kuil Hindu di
Bali. Kuil-kuil ini dianggap oleh para pengikut sebagai penjelmaan dari Shiva yang agung. Semasa
perjalanan Nirartha, jumlah kuil-kuil di pesisir pantai di Bali bertambah
dengan adanya kuil padmasana.
Pada
waktu melakukan Dharmayatra ke Bali dari Daha, Jawa Timur. Danghyang Nirartha
banyak mendirikan Pura – Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti
Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain.
Pura-pura yang didirikan oleh Danghyang Nirartha ini dikenal dengan Pura Dang
Kahyangan. Selain di Bali, Danghyang nirartha juga melakukan dharmayatra ke
Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan
Tuan Semeru. Sedangkan di Lombok dikenal dengan sebutan Haji Duta Semu, dan di
Bali Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Di
Bali, Danghyang Nirartha menetap di Desa Mas. Dari sinipun Danghyang Nirartha
menikahi anak bendesa Mas. Dari pernikahan in Danghyang Nirartha memiliki putra
: Ida Timbul, Ida Alngkajeng, Ida Penarukan, dan Ida Sigaran. Ada dua Bhisama
dari danghyang nirarta kepada seluruh keturunannya, yaitu;
a. Seluruh
keturunannya tidak diperkenankan menyembah pratima (arca – arca
perwujudan).
b. Seluruh
keturunanya tidak diperkenankan sembahyang di Pura yang tidak memakai atau
tidak ada pelinggih Padmasana.
Dalam
hal keyakinan (Agama Hindu) dapat dilihat peninggalannya berupa padmasana.
Walaupun dalam Bhisamanya Danghyang nirarta melarang semua keturunanya
menyembah pratima (arca – arca perwujudan), namun Danghyang Nirarhta
mengagungkan Sadasiwa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, yang Maha
Segalanya dan hampir di semua pura di Bali saat ini terdapat pelinggih
padmasana untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya setelah mendiksa semua
putra-putranya menjadi pedanda, lalu Danghyang Nirartha menuju Pura Luhur
Uluwatu dan mencapai moksa di sana.
Hingga saat ini, peninggalan Danghyang Nirartha masih daat di lihat, seperti
pura – pura di Bali yang dikenal dengan nama Pura Dang Kahyangan
2.3 Perkembangan Agama Hindu Setelah
Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Di Bali Sampai Sekarang
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya
kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami
kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita
Gama Tirtha di Singaraja, Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta
tahun 1925 di Singaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun
1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis
Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar
dan pada tanggal 23 Februari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian
pada tanggal 17-23 November tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan
Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan
yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun
1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan
Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali , yang selanjutnya menjadi
Parisada Hindu Dharma Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan
bahwa kehidupan agama Hindu di Bali sudah berkembang sejak lama dan
karateristik Hindu Dharma yang universal sejak awalnya tetap dipertahankan dan
diaplikasikan dalam kehidupan nyata yang dikenal di Bali dengan ajaran Tri Hita
Karana, yakni hubungan yang harmoni dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama
dan dengan bumi serta lingkungannya
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut diatas maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan terkait dengan perkembangan Agama Hindu di Bali sebagai
berikut.
1. Masuknya agama Hindu di
Bali diperkirakan sebelum abad ke-8 Masehi, karena pada abad ke-8 telah
dijumpai fragmen-fragmen prasasti yang didapatkan di Pejeng berbahasa
Sanskerta. Selain itu ditemukan pula Arca tersebut merupakan satu tipe (style)
dengan arca-arca Siva dari candi Dieng yang berasal dari abad ke-8 yang menurut
Stutterheim tergolong berasal dari periode seni arca Hindu Bali. Dalam prasasti
Sukawana, Bangli yang memuat angka 882 Masehi, menyebutkan adanya tiga tokoh
agama yaitu Bhiksu Sivaprajna, Bhiksu Siwa Nirmala dan Bhiksu Sivakangsita
membangun pertapaan di Cintamani, menunjukkan kemungkinan telah terjadi
sinkretisme antara Siva dan Buddha di Bali dan bila kita melihat akar
perkembangannya kedua agama tersebut sesungguhnya berasal dari pohon yang sama,
yakni agama Hindu.
2. Adapun
tokoh-tokoh yang ikut serta dalam penyebaran dan pengembangan Agama Hindu di
Bali antara lain.Danghyang Markandeya, Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu
Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, Danghyang Dwijendra.
3. Perkembangan
selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan
keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan
muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja, sampai terbentuknuya
Parisadha Hindu di Bali, sehingga menunjukkan kehidupan agama Hindu di Bali
sudah berkembang sejak lama dan karateristik Hindu Dharma yang universal sejak
awalnya tetap dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata yang
dikenal di Bali dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni hubungan yang harmoni
dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama dan dengan bumi serta lingkungannya.
3.2. Saran
Adapun saran untuk pembaca diantaranya :
3.2.1. Agar membaca dengan teliti isi dari karya tulis
ini agar tahu betul perkembangan Agama Hindu di Bali.
3.2.2. Umat Hindu diharapkan menggunakan Konsep-konsep
yang sesua dengan apa yang telah disetujui oleh tokoh-tokoh hindu di Bali,
tanpa mengilangkan budaya yang telah ada di masing-masing daerah, sehingga akan
berkombinasi budaya lokal dengan ajaran agama Hndu.