Senin, 31 Oktober 2016

Calonarang Pura Dalem Agung Padangtegal

"On Camera"
Calonarang Di Pura Dalem Agung Padang Tegal





































Jangan lupa add juga ig sya: tudepong7


artikel tentang SAMPAH


MEMBUANG SAMPAH DI TEPI SUNGAI
Gambar diatas merupakan salah satu masalah di lingkungan saya mengenai sampah yaitu di Desa Peliatan, Ubud. Sampah  yang dibuang secara sembarangan di tepi sungai oleh masyarakat sekitar, dapat memicu banjir atau penyakit. Meskipun hanya sedikit dan masih di daerah yang sempit tapi dari sinilah kita harus belajar untuk selalu bersih dan mentaati peraturan.  Sampah merupakan  barang barang yang merupakan sisa sisa dari proses produksi baik industri maupun rumah tangga. Di daerah saya di Desa Peliatan Ubud ini meskipun sudah tampak sebagai kota, tetapi pemikiran masyarakat masih belum bisa mengimbangi. Masyarakat masih saja membuang sampah di pinggir sungai atau di got tanpa memperhatikan akibat  yang akan nanti kita alami. Kebiasaan membuang sampah di tepi sungai meskipun tidak mengganggu aliran air sungai tetapi pemandangan sekitar sungai menjadi tidak baik dan tanggul titik di tepi samping sungai tampak seperti tempat pembuangan sampah padahal bukanlah tempat pembuangan sampah.
Membuang sampah di sungai memang kelihatannya hal yang sepele namun pengaruhnya dalam kehidupan sungguh sangat luar biasa hebatnya. Tak bisa dibayangkan apabila masing-masing keluarga membuang satu tas plastik sampah ke sungai, padahal kita tau ada jutaan keluarga di indonesia sehingga apabila ditotal maka ada jutaan tas sampah perhari, itu baru dalam satu hari lalu berapa total dalam satu tahun dan berapa jumlahnya diseluruh dunia. Efeknya dapat kita saksikan banjir yang terjadi dimana-mana, air sungai rusak, banyak jenis ikan punah dan bermacam kerugian lainnya yang semua itu tentu sangat merugikan kehidupan manusia itu sendiri. Jangankan dihitung di dunia, di Desa Peliatan ada puluhan ribu keluarga. Berarti ada puluhan ribu tas plastik sampah yang dibuang ke pinggir sungai. Jadi marilah kita bersama-sama menjaga keindahan dari desa kami agar terhindar dari pencemaran.
Ada kemungkinan orang yang membuang sampah di tepi sungai dengan alasan karena ikut-ikutan orang banyak atau tetangga yang juga melakukannya sehingga seakan menjadi budaya. Niat hati ingin membuang sampah pada tempatnya tapi melihat ada yang lebih praktis maka memilih melemparnya saja ke sungai. Biaya pembuangan  sampah di tepi
sungai lebih murah jika dibanding mengerjakan tukang kebersihan untuk mengangkutnya ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Tinggal di bantaran sungai sehingga lebih dekat membuangnya, tinggal melempar maka selesai sudah urusan pembuangan sampah. Apapun alasannya yang jelas membuang sampah disungai merupakan sebuah tindakan tidak terpuji yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang banyak.
Menurut saya membuang sampah di sungai dapat mengakibatkan banyak hal, antara lain ;
1.      Air sungai tidak dapat mengalir dengan normal karena tersumbat sampah pada area tertentu yang terjadi penumpukan misalnya pada pintu air.
2.      Air sungai menjadi kotor dan bau
3.        Banjir terjadi karena sungai tidak dapat berfungsi dengan  baik
4.      Ikan mati dan terjadi kepunahan beberapa spesies yang hidup di sungai karena jenis sampah tertentu membawa bahan kimia berbahaya yang dapat merusak ekosistem yang hidup di dalam air sungai
5.      Pepohonan atau tanaman yang seharusnya tumbuh subur disekitar sungai menjadi mati sehingga lingkungan menjadi rusak tidak bersahabat
6.      Kualitas air menjadi rusak, hamparan sungai yang sebelumnya terlihat biru bersih menyegarkan bisa berubah menjadi hitam pekat atau warna lainnya dengan bau busuk yang menyengat
7.      Psikologi masyarakat disekitar sungai terganggu, sering menutup hidung karena bau dan terganggunya aktifitas kehidupan sehari-hari
8.      Banyak ragam jenis penyakit baru karena kualitas air sungai yang buruk, padahal banyak warga yang menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari

Banyak sekali kerugian yang ditumbulkan akibat membuang sampah di tepi sungai, akibatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang membuangnya saja namun harus ditanggung masyarakat umum, hewan-hewan, ikan, pepohonan, dan keseimbangan alam menjadi terganggu sehingga planet bumi menjadi tidak layak untuk dihuni. Jadi mari mulai dari diri sendiri untuk membudayakan membuang sampah pada tempatnya, semoga dapat kita jaga lingkungan sekitar dan dapat kita saksikan kembali birunya air sungai di kota besar maupun kecil. Kita harus sadar bahwa kebiasaan buruk itu harus ditinggalkan, sungai bukan tempat untuk membuang sampah tetapi untuk jalur air menuju ke laut.
Bencana banjir yang kerap melanda belakangan ini memang tidak lepas dari kebiasaan buruk yang dilakukan manusia dengan membuang sampah sembarangan. Banjir dapat terjadi di sungai ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai dan ketika air sungai tercemar akibat tumpukan sampah yang begitu banyak. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah, pertokoan dan lingkungan sekitar sungai. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir. Maka dari itu wajib bagi kita untuk menjaga keasrian sungai.  Penanganan sampah yang kurang maksimal oleh pemerintah ini juga menyebabkan masyarakat melakukan hal tersebut (membuang sampah sembarangan). Maka perlu penjagaan yang ketat dan sanksi yank berat bagi pelanggar.

SAMPAH PASAR
Gambar diatas merupakan gambar situasi dan kondisi keadaan di daerah Peliatan yaitu di Pasar Peliatan. Sampah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun rumah tangga. Sampah tersebut merupakan jenis sampah yang merupakan sisa sisa makanan, sayuran busuk, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng-kaleng serta sampah lainnya. Berbagai macam sampah yang telah disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil saja dari sumber-sumber sampah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari sampah. Terutama penumpukan sampah yang terjadi di tempat-tempat umum seperti di pasar-pasar. Pasar yang sebagai pusat perdagangan maka karakteristik sampah yang dihasilkan didominan oleh sampah organik, basah, dan mudah membusuk serta memiliki volume besar karena utamanya merupakan sampah yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Besarnya timbulan sampah yang dihasilkan tersebut tentunya diperlukan penanganan dan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik tersebut agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan pasar maupun sekitarnya. Di desa kami meskipun sudah disediakan wadah, dikumpulkan kemudian diangkut dan dibawa ke pembuangan akhir, tetap saja kebersihan belum terjaga. Warga pasar masih saja membuang sampahnya secara sembarang tidak tepat pada tempatnya/wadah yang sudah disediakan. Warga masih membuangnya di pinggiran wadah. Bau busuk yang menyengat sangat dirasakan oleh warga sekitar dan orang-orang yang sedang berjalan baik berjalan kaki maupun mengendarai motor atau mobil.
Secara spesifik salah satu penghasil sampah terbesar berasal dari pasar. Pasar merupakan tempat para penjual dan pembeli saling berhubungan dengan mudah untuk melakukan transaksi perdagangan atau dalam pengertian lain disebutkan bahwa pasar adalah tempat tertentu atau tetap, pusat memperjualbelikan dan biasanya barang keperluan hidup. Besarnya timbulan sampah yang dihasilkan dan dalam upaya mencegah permasalahan yang dapat terjadi dari aktivitas perdagangan tersebut maka pemerintah kota atau desa memandang perlu untuk melakukan kerjasama dengan pihak swasta atau pihak lain guna mengatasinya.
 Selama melakukan pengelolaan, pasar telah melakukan berbagai upaya pengelolaan sampah, hal ini terlihat dari disediakannya wadah sampah bagi pedagang, terdapatnya petugas kebersihan pasar dan dibangunnya tempat pengelolaan sampah kompos yang terdapat di areal pasar dengan harapan sampah yang dihasilkan pedagang dapat tertangani secara baik dan dimanfaatkan kembali.
Namun demikian, upaya-upaya pengelolaan sampah tersebut masih menyisahkan permasalahan. Hal ini terlihat dari kondisi eksisting yang masih menyisahkan sampah yang berserakan pada areal pasar setelah melakukan aktivitas perdagangan. Salah satu permasalahannya adalah ketersediaan wadah sampah yang tidak sesuai dengan jumlah timbulan dan komposisi sampah yang dihasilkan. Secara spesifik sampah organik yang mudah membusuk dan bau idealnya menggunakan wadah sampah yang tertutup sedangkan sampah kertas dan lainnya dapat digunakan wadah sampah yang terbuka. Pasar dalam penggunaan wadah sampah tidak dilakukan pemisahan berdasarkan komposisi sampah tersebut tetapi menggunakan kantong plastik sehingga apabila dilakukan pengumpulan dan volume sampahnya besar maka wadah tersebut akan robek dan menyebabkan sampah berserakan dilingkungan pasar. Terkait dengan permasalahan sampah Pasar yang belum tertangani secara baik karena masih menyisahkan sisa-sisa sampah yang berserakan pada areal kios, los ataupun tempat lain di sekitar Pasar saat aktivitas perdagangan ataupun setelah aktivitas perdagangan maka dalam perencanaan ini akan dilakukan kajian mengenai perencanaan sistem pewadahan Pasar. Diharapkan dari kajian ini dapat membantu memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan sampah dengan cara penyediaan wadah yang didasarkan pada jenis dan komposisi sampah yang dihasilkan tersebut sehingga kebersihan dan kualitas lingkungan Pasar tetap terjaga.
Pewadahan adalah suatu cara penampungan dengan sampah sebelum dikumpulkan , dipindahkan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir.
 Tujuan utama Pewadahan sampah adalah : Untuk menghindari terjadinya sampah yang berserakan sehingga mengganggu  lingkungan dari kesehatan, kebersihan dan estetika. Memudahkan proses pengumpulan sampah dan tidak membahayakan petugas pengumpulan sampah, baik petugas kota maupun dari lingkungan.
Pola penampungan bisa berbentuk individual seperti : setiap rumah/toko dan bangunan lainnya memiliki wadah sendiri, cocok untuk daerah pemukiman kelas menengah dan tinggi, pertokoan, perkantoran dan bangunan besar lainnya.
Komunal, tersedia 1 wadah yang dapat dimanfaatkan oleh beberapa rumah/bangunan cocok untuk daerah pemukiman kumuh dengan tingkat ekonomi rendah, rumah susun, pemukiman padat sekali (yang menyulitkan proses operasi pengumpulan).
Sarana pewadahan diarahkan untuk memperhatikan hal - hal berikut :
a. Alat pewadahan yang disarankan untuk digunakan adalah tipe tidak tertanam (dapat diangkat) untuk memudahkan operasi pengumpulan.
b. Jenis wadah yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan pengadaannya
c. Ukuran wadah minimal dapat mewadai timbulnya sampah selama 2 hari
d. Wadah mampu mengisolasi sampah dari lingkungan ( memiliki tutup )
e. Mudah diambil atau diangkut.
f. Tidak mengambil lahan trotoar ( harus ada lokasi khusus ).
g. Tidak dipinggir jalan protokol.
h. Sedekat mungkin dengan sumber sampah terbesar.
i. Tidak pengganggu pemakai jalan
Sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan penduduk daerah perkotaan serta beragam aktivitas yang dilakukan tentunya berimplikasi terhadap berbagai persoalan umum dalam pelayanan prasarana yang salah satunya adalah masalah persampahan. Sampah merupakan bagian sisa aktifitas manusia yang perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan berbagai permasalahan terhadap kehidupan manusia maupun gangguan pada lingkungan seperti pencemaran lingkungan, penyebaran penyakit, menurunnya estetika dan sebagai pembawa penyakit. Untuk itu berbagai upaya pengelolaan sampah terus dilakukan namun sampai saat ini belum mencapai hasil yang optimal karena berbagai kendala masih dihadapi baik kendala ekonomi, sosial budaya maupun penerapan teknologi.
Berbagai kendala penanganan sampah tersebut selalu muncul kepermukaan dan menjadi masalah klasik bagi setiap kota di Indonesia terutama diwilayah saya di desa Peliatan ini. Hal ini karena sampah sangat terkait dengan jumlah penduduk dan aktivitas yang dihasilkan oleh penduduk itu sendiri. Makin besar jumlah penduduk tentunya aktivitas yang dihasilkan juga makin beragam sehingga timbulan sampah yang dihasilkan juga makin besar dan bervariasi. Secara umum timbulan sampah dapat dihasilkan dari berbagai kegiatan seperti pemukiman, perindustrian, perkantoran, perdagangan dan pasar, pertokoan serta kawasan umum lainnya. Secara spesifik salah satu penghasil sampah seperti yang disebutkan diatas, berasal dari kegiatan perdagangan yang terdapat di pasar. Jenis kegiatan perdagangan di pasar ini adalah perdagangan grosir dan enceran yang melayani penduduk Desa Peliatan dan sekitarnya dengan barang yang diperdagangankan meliputi sembilan bahan pokok (sembako), pakaian, kosmetik, elektronik dan lain sebagainya.
Besarnya jumlah pedagang dan beragam jenis barang yang diperjualbelikan tersebut tentunya menghasilkan jumlah timbulann sampah yang bervariasi dan dalam jumlah yang cukup besar. Besarnya timbulan sampah yang dihasilkan dan dalam upaya mencegah permasalahan yang dapat terjadi dari aktivitas perdagangan tersebut maka pemerintah Desa peliatan memandang perlu untuk melakukan kerjasama dengan pihak swasta atau pihak lain guna mengatasinya. telah melakukan berbagai upaya pengelolaan sampah, hal ini terlihat dari disediakannya wadah sampah bagi pedagang, terdapatnya petugas kebersihan pasar dan dibangunnya tempat pengelolaan sampah kompos yang terdapat di areal pasar dengan harapan sampah yang dihasilkan pedagang dapat tertangani secara baik dan dimanfatkan kembali.
Sampah merupakan permasalahan utama yang dapat ditemukan hampir di semua pasar tradisional di Indonesia. Selama ini sebagian besar pasar tradisional dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end of pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah (TPA). Hal ini berpotensi besar melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Selain itu juga diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengangkut sampah tersebut ke TPA.
Permasalahan pengelolaan sampah juga merupakan masalah pelik yang dihadapi oleh warga di sekitar warga Desa Peliatan yang menghasilkan berbagai komoditas hasil pertanian, terutama sayur-sayuran dan buah-buahan.
Jumlah sampah yang dihasilkan oleh Desa Peliatan cukup banyak dan selalu bertambah setiap tahun. Sampah pasar menduduki urutan kedua setelah sampah domestik. Sampah yang dihasilkan pasar tradisional didominasi sampah organik. Sampah pasar sering menggunung di TPS karena tidak terangkut setiap hari. Bau dan pemandangan tidak sedap yang ditimbulkan membuat masyarakat sekitar hidup tidak nyaman. Permasalahan sampah pasar tersebut bisa diminimalkan dengan mengolah sampah menjadi kompos. Di daerah Desa Peliatan pengeloaan sampah sangat diperlukan. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat.
Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal, di antaranya tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. Di daerah Desa Peliatan ini timbulan sampah pasar ini tidak hanya datang dari warga pasar tetapi warga yang memiliki rumah di dekat-dekat pasar juga ikut memenuhi wadah sampah yang ada di pasar. Meskipun setiap satu hari atau dua hari sampah tersebut diangkut oleh truk sampah yang disediakan tetap saja sampah tetap berserakan dan mengeluarkan bau busuk. Tidak juga hanya warga pasar dan sekitar pasar, bahkan orang-orang lain dari luar desa juga kadang ikut membuang sampahnya ke wadah sampah yang ada di Pasar Peliatan ini. Hal tersebut diketahui karena sempat warga disekitar pasar melihat ada orang yang bukan berasal dari desa peliatan membuang sampahnya di wadah yang ada di pasar tersebut. Semenjak itu, pemerintah desa Peliatan menerapkan awig awig, barang siapa yang akan membuang sampah di wadah yang disediakan di pasar harus membayar sewa pembuangan. Kepala desa mendatangi setiap rumah yang ada di desa peliatan, kami disensus dan ditanyakan apakah akan membuang sampah di pasar atau tidak. Dan disetujui dan setiap bulannya kami dikenakan biaya atas pembuangan yang kami lakukan setiap harinya. Tetapi hal tersebut belum menjadikan pasar menjadi lingkungan yang bersih. Karena masih saja orang-orang yang bukan dari desa peliatan yang membuang sampah di wadah yang ada di pasar secara diam-diam pada malam harinya. Hal itu saya bisa ungkapkan karena saya sendiri pernah melihat dan saya juga sudah pernah melihat pecalang dari desa peliatan menegur orang lain tersebut.
KEASRIAN DAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN
Didaerah desa Peliatan ini disamping hal buruk yang terjadi mengenai sampah, di daerah desa peliatan juga memiliki sisi keasrian dan kebersihan. Hal itu ditandai dengan keadaan rumah-rumah penduduk yang begitu bersih, indah, dan asri. Memang setiap orang berkarakter beda-beda. Meskipun ada yang masih berkarakter santai (belum memiliki jiwa bersih) tetapi ada juga yang sudah menerapkan kebersihan. Ini contoh rumah masyarakat yang tergolong bersih, indah dan terjaga keasriannya. Ini terletak di Banjar Teruna Desa Peliatan.
Dirumah ini terlihat banyak pepohonan yang ada. Misalnya ada pohon anggrek, kamboja dan lain sebagainya. Sebagian dari penduduk desa juga memiliki tempat pembuangan sendiri di belakang rumahnya yang nantinya sampah tersebut akan menyatu dengan tanah. 


PERKEMANGAN AGAMA HINDU DI BALI

PERKEMANGAN AGAMA HINDU DI BALI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Agama Hindu merupakan agama tertua di Dunia dan memiliki sifat yang universal dan flexiblelitas yang tinggi. Permulaan berkembangnya agama ini dimulai dari Jambu Dwipa yaitu negara India. Dalam penyebarannya, Agama Hindu dipelopori oleh Para Mahayogi/maharsi yang dimana beliau adalah orang-orang yang menerima langsung ajaran-ajaran Agama dari Tuhan yang kemudian diajarkan kepada umat manusia.
Dalam penyebarannya, agama Hindu dimulai dari daerah tetangga India, dan lama-kelamaan menyebar keseluruh dunia. Dalam hal ini ada banyak pemeran dalam penyebaran Agama Hindu seperti halnya para pedagang dari Indi, mereka menyeberang lautan, dan singgah di negara-negara konsumen, sembari berdagang, para pedagang india mengajarkan ajaran Agama hindu, selain itu  Penyebaran Agama Hindu juga dilakukan oleh para brahmana yaitu guru-guru spiritual yang melakukan suatu perjalanan jauh, dan di tempat persinggahannya mereka membuat suatu Pesraman dan disanalah para maharsi mengajarkan Agama Hindu.
Di Indonesia masuknya Agama Hindu diawali dengan berdirinya Kerajaan-kerajaan Hindu yaitu dimulai dari Kerajaan Kutai yang merupakan kerajaan pertama di Indonesia dan juga bercorak Hindu.Seiring dengan berjalannya waktu, kerajaan Hindu di Indonesia semakin meluas sampai ke pelosok-pelosok daerah. Jaman Kerajaan Majapahit adalah puncak kejayaan Kerajaan Hindu di Indonesia dan sekaligus kerajaan Hindu terakhir di Indonesia setelah berhasil druntuhkan oleh Kerajaan agama lain.
Namun perjalan Hindu tidak berakhir seperti halnya Kerajaan majapahit yang runtuh, setelah runtuhnya kerajaan majapahit, sebagian dari pemeluk agama Hindu di Jawa berhasil menyelamatkan diri ke Bali bersama dengan ajaran-ajaran yang dibawa. Di Balilah Agama Hindu berkembang pesat dan hampir 99 % penduduknya memeluk Agama Hindu. Berkembangnya Agama Hindu di Bali juga tidak lepas dari ajaran-ajaran Agama Hindu yang masuk bersama masuknya para tokoh Hindu ke bali.
Dalam karya tulis ini penulis mengambil judul Masuknya Agama Hindu Oleh Para Maharsi Ke-Bali "yang dimana nantinya akan membahas tentang perkembangan Gama Hindu di Bali, tokoh-tokoh penyebar Agama Hindu di bali, dan perkembangan Agama Hindu setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu di Bali.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana Awal Perkembangan Agama Hindu di Bali ?
1.2.2  Siapakah Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Agama Hindu di Bali ?
1.2.3. Bagaimana Perkembangan Agama Hindu Setelah runtuhnya Kerajaan kerajaan di Bali sampai sekarang ?



1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Untuk mendeskripsikan Awal Perkembangan Agama Hindu di Bali
1.3.2 Untuk mendeskripsikan Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Penyebaran  Agama Hindu di Bali
1.3.3 Untuk mendeskripsikan Perkembangan Agama Hindu Setelah runtuhnya Kerajaan-kerajaan di Bali sampai sekarang






































BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Awal Perkembangan Agama Hindu di Bali
Masuknya agama Hindu di Bali diperkirakan sebelum abad ke-8 Masehi, karena pada abad ke-8 telah dijumpai fragmen-fragmen prasasti yang didapatkan di Pejeng berbahasa Sanskerta. Ditinjau dari segi bentuk hurufnya diduga sejaman dengan meterai tanah liat yang memuat mantra Buddha yang dikenal dengan “Ye te mantra”, yang diperkirakan berasal dari tahun 778 Masehi. Pada baris pertama dari dalam prasasti itu menyebutkan kata “Sivas.......ddh.......” yang oleh para ahli, terutama Dr. R. Goris menduga kata yang sudah haus itu kemungkinan ketika utuh berbunyi: “Siva Siddhanta”. Dengan demikian pada abad ke-8 , Paksa (Sampradaya atau Sekta) Siva Siddhanta telah berkembang di Bali. Sampai ditulisnya sebuah prasasti tentunya menunjukkan agama itu telah berkembang secara meluas dan mendalam diyakini oleh raja dan rakyat saat itu. Meluas dan mendalamnya ajaran agama dianut oleh raja dan rakyat tentunya melalui proses yang cukup panjang, oleh karena itu agama Hindu (sekta Siva Siddhanta) sudah masuk secara perlahan-lahan sebelum abad ke-8 Masehi.Bukti lain yang merupakan awal penyebaran agama Hindu di Bali adalah ditemukannya arca Siva di pura Putra Bhatara Desa di desa Bedaulu, Gianyar. Arca tersebut merupakan satu tipe (style) dengan arca-arca Siva dari candi Dieng yang berasal dari abad ke-8 yang menurut Stutterheim tergolong berasal dari periode seni arca Hindu Bali.
Dalam prasasti Sukawana, Bangli yang memuat angka 882 Masehi, menyebutkan adanya tiga tokoh agama yaitu Bhiksu Sivaprajna, Bhiksu Siwa Nirmala dan Bhiksu Sivakangsita membangun pertapaan di Cintamani, menunjukkan kemungkinan telah terjadi sinkretisme antara Siva dan Buddha di Bali dan bila kita melihat akar perkembangannya kedua agama tersebut sesungguhnya berasal dari pohon yang sama, yakni agama Hindu. Berkembangnya dan terjadinya sinkretisme antara Sivaisme dan Buddhisme di Bali sebenarnya diduga lebih menampakkan diri pada masa pemerintahan raja besar Dharma Udayana Varmadeva, karena kedua agama tersebut menjadi agama negara.
Bersamaan dengan datangnya agama Hindu ke Bali, pada abad ke-8 juga dijumpai peninggalan-peninggalan yang menunjukkan masuknya agama Buddha Mahayana. Bukti masuknya agama Buddha Mahayana di Bali dapat diketahui dari stupika-stupika tanah liat yang tersebar di daerah Pejeng Selatan, Titiapi dan Blahbatuh, Gianyar. Seluruh stupika di pura Penataran Sasih, Pejeng dapat diselamatakan dan dipindahkan ke Museum Bali. Sekitar abad ke-13 Masehi, di Bali berkembang pula sekta Bhairava dengan peninggalan berupa arca-arca Bhairava di pura Kebo Edan Pejeng. Sekta ini mungkin berkembang sebagai akibat adanya hubungan politis dengan kerajaan Singhasari (Singosari) di jawa Timur pada masa pemerintahan raja Kertanegara. Berdasarkan data sejarah tersebut, ternyata perkembangan awal kedatangan agama Hindu (Sivaisme) dan Buddha (Mahayana) hampir pada saat yang bersamaman dan bahkan akhirnya agama Buddha Mahayana ini luluh ke dalam agama Hindu seperti diwarisi di Bali saat ini.
Pada masa Bali Kuno merupakan masa tumbuh dan berkembangnya agama Hindu yang mencapai kejayaan pada abad ke-10 dengan ditandai oleh berkuasanya raja suami istri Dharma Udayana Varmadeva dan Gunapriyadharmapatni. Pada masa pemerintahan raja ini terjadi proses Jawanisasi di Bali, yakni prasasti-prasasti berbahasa Bali Kuno digantikan dengan bahasa Jawa Kuno dan susastra Hindu berbahasa Jawa Kuno dibawa dari Jawa dan dikembangkan di Bali. Saat itu di Bali berkembang ajaran Hindu yang disebut sekta. Sekta-sekta yang berkembang di Bali, yang menurut penelitian Dr. R.Goris (1926) dalam (http://kodoknyitnyit.blogspot.com ) jumlahnya 9 sekta, yang terdiri dari : Siva Siddhanta, Pasupata, Bhairava, Vaisnava, Bodha (Soghata), Brahmana, Rsi, Sora (Surya) dan Ganapatya. Sedangkan dalam beberapa lontar di Bali disebutkannya 6 sekta (disebut Sad Agama), yang terdiri dari Sambhu, Brahma, Indra, Bayu, Visnu dan Kala. Di antara seluruh sekta tersebut, rupanya yang sangat dominan dan mewarnai kehidupan agama Hindu di Bali adalah Siva Siddhanta dengan peninggalan beberapa buah lontar (teks) antara lain: Bhuvanakosa, Vrhaspatitattva, Tattvajnana, Sang Hyang Mahajnana, Catur Yuga, Vidhisastra dan lain-lain. Mudra dan Kutamantra yang dilaksanakan oleh para pandita Hindu di Bali dalam aktivitas ritual pelaksanaan Pujaparikrama bersumber pada ajaran Siva Siddhanta.
Masa Bali Kuno ini berakhir dengan pemerintahan raja Astasura-ratnabhumibanten yang ditundukkan oleh ekspedisi Majapahit dibawah pimpinan mahapatih Gajah Mada. Pada masa Bali Kuno ini (antara abad ke-10 sampai dengan ke-14) pertumbuhan agama Hindu demikian pesat. Pada masa pemerintahan raja Dharma Udayana, seorang pandita Hindu bernama Mpu Rajakerta menjabat Senapati I Kuturan (semacam perdana mentri) yang menata kehidupan keagamaan dengan baik dan terwarisi hingga kini.


2.2 Tokoh-Tokoh Penyebaran Agama Hindu di Bali
Dalam perkembangan Agama Hindu di bali terdapat enam tokoh suci yang sangat berpeerran penting. Keenam tokoh suci itu antara lain:

2.2.1. DANGHYANG MARKANDEYA
Ilustrasi Maharsi Markandeya
Rsi Markandeya adalah seorang Maha Yogi yang sangat utama yang berasal dari keturunan warga Bregu. Bheghawan Bregu adalah keturunan dari Hyang Jagatnatha yang bergelar Sang Hyang Ratnamaya. Beliau adalah putra dari Sang yang Tunggal yang menjaga dan menguasai dunia seluruhnya. Dikisahkan, Salah satu keturunan Hyang Jagatnatha bernama Sang Hyang Rsiwu, beliau seorang Mahayogi yang amat bijaksana mempunyai putra bergelar Sang Hyang Meru.
Sang Hyang Meru mempunyai Putra Sang Ayati dan adiknya Sang Niata. Sang Ayati mempunyai putra bernama Sang Prana , dan Sang Niata mempunyai putra bernama Sang Markanda. Sang Markanda memperistri seorang gadis cantik dan sempurna bernama Dewi Manswini. Inilah yang Melahirkan Sang Maharsi Markandeya. Rsi Markandeya sangat tampan da mempunyai banyak ilmu, Lama beliau membujang dan akhirnya memperistri Dewi Dumara. Dan mempunyai putra seorang bergelar Hyang rsi Dewa Sirah.Rsi Dewa sirah memperistri Dewi Wipari. Rsi Markadeya adalah titisan Dewa Surya yang berasal dari Negara Bharatawarsa ( India). Dan Beliau berkeinginan mengembangkan ajaran Yoga beliau menuju daerah selatan India di bagian timur Nusantara dengan beberapa murid beliau yang telah siap turun gunung. Perjalanan beliau pertama menuju Gunung Dumalungdi Hyang yang disebut gunung Hyang atau Dewata.
Namun disana sudah ada pertapaan Sang Ila putra Rsi Trenawindhu yang merupakan murid dari Sang Hyang Maharsi Agastya. Yang telah bertapa di tanah Jawa dan telah berbaur dengan Sapta Rsi di sana. Dan itulah sebabnya Hyang Mahayogi Merkandeya pergi ke tempat lain yaitu Gunung Raung,Jawa timur. Disana beliau bertapa dan membangun pesraman,dan pada suatu hari Belau mendengar Sabda Dari Akasa Dan melihat sinar menjulang ke Akasa, Sabda didengar dari leluhur Beliau Hyang Jagatnatha, dan Sabda itu memerintahkan Mahayogi Markandeya pergike arah timur yaitu Balipulina. Sebelah timur Tanah jawa, dan di Sabdakan itu karena di Bali Pulina ada Stana Para Dewa yaitu di Gunung Tohlangkir ( Gunung Agung).Yang pada saat itu disebut Giri Raja,Dalam Sabda beliau mendengar bahwa Gunung itu adalah potongan Gunung Maha Meru yang di bawa hyang Pasupati untuk memngunci Dunia saat itu.
Akhirnya Mahayogi Markandeya pergi kea rah Timur Bali sesuai sabda dengan pengikutnya sebanay 400 orang, Namun dalam perjalanan pertama ini, beliau mendapat Halangan semua pengikutnya meninggal terserang penyakit, Karena mendapat halangan Beliau kembali ke Gunung Raung Jawa, bersemedi untuk mohon petunjuk, Dari hasil semedi beliau mandapat wahyu , kalau ingin selamat dalam perjalanan Dharmayatra ini Harus menanam Panca Datu sebagai dasar Yadnya untuk keharmonisan dengan alam Bali ini. Seterusnya beliau melakukan perjalanan ke dua kali dengan pengikut 800orang .Beliau berkehendak berdharmayatra menyebarkan ajaran ajaran Tri Sakti paksa, terutama Waisnawa Paksa segala aturan Tatacara upacara dan upakaranya. Dan Pada perjalanan ke dua ini., beliau menghaturkan Yadnya berupa penanaman Panca Datu di Gunung Tohlangkir, sekarang disebut Besakih.

a. Jejak Maha Rsi Markandeya di Bumi Parhyangan
Pura Murwa (Purwa) Bhumi menjadi tonggak pertama kali Maharsi Markandeya menyebarkan ilmu keagamaan, menularkan ilmu teknologi pertanian pada orang Aga yang tinggal di Payangan.
Kecamatan Payangan yang berlokasi di belahan barat laut, Kabupaten Gianyar, selama ini lebih banyak dikenal sebagai daerah pertanian, terutama penghasil buah leci. Satu identitas yang sulit ditampik kenyataannya. Mengingat hanya di Payangan jenis tanaman yang menurut cerita masyarakat Payangan berasal dari ngeri Tirai Bambu, Cina, banyak bertumbuhan. Di balik potensi pertanian yang dimiliki, kawasan yang berada sekitar 500 meter dari permukaan laut ini ternyata memiliki banyak tempat suci tergolong tua. Satu di antaranya Pura Murwa Bhumi.
Lokasi pura tua ini tak jauh dari pusat kota kecamatan. Kalau Anda berangkat dari Denpasar hendak menuju Kintamani dan mengambil jalur jalan raya Payangan, maka di satu tempat sebelah timur jalan, kurang lebih 500 meter sebelum Pasar Payangan, coba sempatkan melihat ke arah kanan jalan (arah timur). Di sana terpampang dengan jelas papan nama Pura Murwa Bhumi atau masyarakat sekitar ada menyebut Purwa Bhumi. Dalam penjelasan Kelian Dinas Pengaji sekaligus menjadi Kepala Desa Melinggih Kelod, I Made Suwardana, pura yang diempon warga Desa Pengaji ini memiliki pertalian dengan kisah perjalanan seorang tokoh suci Maharsi Markandeya, di tanah Bali Dwipa.
Seperti banyak tersurat dalam lontar atau Purana, di antaranya lontar Markandeya Purana, bahwa sang yogi Markandeya yang kawit hana saking Hindu (yogi Rsi Markandeya berasal dari India), melakukan perjalanan suci menuju tanah Jawadwipa. Beliau sempat beryoga semadi di Gunung Demulung, lalu berlanjut ke Gunung Di Hyang—kelak Gunung Di Hyang dikenal dengan nama Gunung Dieng, berlokasi di Jawa Tengah. Dari Gunung Dieng Rsi Markandeya meneruskan perjalanan menuju arah timur ke Gunung Rawung yang terletak di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Di Gunung Rawung sempat membangun pasraman, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bali. Di pulau mungil ini Maharsi bersama pengikutnya merabas hutan dan membangun banyak tempat suci. Di antaranya Pura Murwa Bhumi. Mengenai Pura Murwa Bhumi, tradisi lisan di Payangan dan sekitarnya menyebutkan, tempat suci ini konon menjadi tempat pertama kali Maharsi Markandeya memberikan pembelajaran kepada para pengikutnya. Penegasan yang cukup masuk diakal, terutama bila dikaitkan dengan nama tempat di mana pura tersebut dibangun, yakni Desa Pengaji.
Besar kemungkinan nama Pengaji diambil dari satu tugas mulia Maharsi Markendya selama berada di Payangan, yakni memberi pengajian (pembelajaran) pada orang-orang. “Kehadiran Pura Murwa Bhumi ada tercatat di dalam prasasti,” sebut Cokorda Made Ranayadnya, tetua dari Puri Agung Payangan, sekaligus pangempon di Pura Murwa Bhumi. Satu di antaranya tertulis dalam prasasti Pura Besakih yang termuat di Buku Eka Dasa Ludra. Dalam buku itu disebutkan secara singkat bahwa ada pura di Payangan bernama Pura Murwa Bhumi. Dulu, warga sekitar sering menyebut Pura Dalem Murwa.
Tak beda jauh dengan penjelasan Cok Ranayadnya. Dalam buku Sejarah Bali Jilid I dan II, karangan Gora Sirikan dan diterbitkan Nyoman Djelada, juga ada menerangkan, kedatangan Rsi Markandeya yang kedua ke Bali dengan mengikutsertakan ribuan orang dari Desa Aga, Jawa. Orang Aga ini dikenal sebagai petani kuat hidup di hutan. Maharsi Markandeya mengajak pengikut orang Aga guna diajak merabas hutan dan membuka lahan baru. Setelah berhasil menunaikan tugas, maka tanah lapang itu dibagi-bagikan kepada pengikutnya guna dijadikan sawah, ladang, serta sebagai pekarangan rumah. Tempat awal melakukan pembagian itu kelak menjadi satu desa bernama Puwakan. Kini lokasinya di Desa Puwakan, Taro Kaja, Kecamatan Tegallang, Kabupaten Gianyar.
Tentang pembagian tanah dan kehadiran maharsi di Bali, dalam Markandya Purana ada dijelaskan: Saprapta ira sang Yoghi Markandya maka di watek pandita Adji, mwah wadwan ira sadya ring genahe katuju, dadya ta agelis sang Yoghi Markandya mwang watek Pandita prasama anangun bratha samadhi, anguncar aken wedha samadhi, mwah wedha pangaksamaning Bhatara kabeh, sang Pandita aji anguncar aken wedha panulaks arwa marana, tarmalupengpuja samadhi, Dewayajna mwang Bhhutayajna, Pratiwi stawa. Wus puput ngupacaraning pangaci aci, irika padha gelis wadwan ira kapakon angrabas ikangwana balantara, angrebah kunang taru-taru, ngawit saking Daksina ka Utara.
Reh sampun makweh olih ngrabas ikang wana balantara, mwah dinuluran swecaning Hyang tan hana manggih pasangkalan, Sang Yoghi Markandya anuduh akenwadwan ira araryanrumuhun angrabas wana ika, tur wadwan ira sadaya, angangge sawah mwang tegal karang paumahan…..,
Artinya:
     Setibanya Sang Yoghi Markandya seperti juga para Pandita Aji, bersama rakyatnya semua di tempat yang di tuju, maka segera Sang Yoghi Markandya dan para pandita semuanya melakukan bratha samadi, dengan mengucapkan wedha samadi, serta weda memohon perkenan Ida Batara semua, Sang pandita Aji mengucapkan weda penolakan terhadap semua jenis hama dengan tak melupakan puja samadhi, menyelenggarakan upacara Dewayajnya dan Bhutayajnya, serta memuja Pertiwi. Setelah selesai melakukan pangaci-aci (melakukan upacara), maka seluruh rakyatnya diperintahkan merabas hutan belantara tersebut, menebang kayu-kayu, di mulai dari selatan setelah itu baru ke utara.
Atas perkenan Tuhan Hyang Maha Kuasa, proses perabasan hutan tak mendapat halangan. Karena sudah luas, maka Sang Yoghi Markandya memerintahkan rakyatnya untuk berhenti melakukan perabasan hutan. Yoghi Markandya kemudian membagi-bagikan lahan itu kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tanah tegalan, serta pekarangan rumah.
Usai melakukan pembagian tanah, Maharsi Markandeya kembali melakukan pertapaan di satu tempat yang mula-mula diberi nama Sarwadha. Tempat dimaksud kini menjadi Desa Taro, sedang Sarwadha, kini merupakan lokasi satu tempat suci cukup besar. Sarwadha sendiri berasal dari kata sarwa (serba) dan ada, Jadilah serba ada, artinya di tempat inilah segala keinginan tercapai, lantaran semua serba ada. Setelah keinginan terpenuhi di Taro, Maharsi kemudian melanjutkan perjalanan serta memindahkan tempat pertapaan ke arah barat. Pada satu lokasi yang masih asri. Di tempat baru itu Beliau mendapat inspirasi (kahyangan) dari Tuhan, makanya lamat-lamat tempatnya dinamakan kahyangan, kemudian berubah lagi menjadi parhyangan, dan kini disebut Payangan.
Tempat di mana rohaniwan mengelar pertapaan dibuat sebuah mandala srta didirikan sebuah sebagai tempat memuja para dewa. Pura dimaksud diberi nama Murwa yang artinya permulaan. Belum benderang betul kenapa pura yang diberi nama Purwa atau Murwa (kini bernama Murwa Bhumi) disebut sebagai permulaan. Tiada tanda jelas yang bisa dijadikan bukti otentik. Tapi, bila ditelaah lebih jelas, kata Purwa sama dengan timur atau yang pertama. Di timur pertama kali matahari mulai memancarkan sinarnya yang benderang. Di timur pula bulan kali pertama terbit. Jika dikaitkan dengan perjalanan Maharsi di Payangan, boleh jadi di Pura Murwa Bhumi-lah dijadikan tempat pertama oleh Maharsi Markandeya bertapa sekaligus memberikan pembelajaran bagi para pengikut menyangkut agama dan cara-cara berteknologi guna memperoleh kemakmuran. Makmur yang dimaksud zaman dulu, jelas menyangkut cara bertani yang baik dan benar sehingga mampu mendapat hasil bagus.
Tempat suci yang diempon warga Desa Pakraman Pengaji, menurut Bandesa Pakraman Pengaji Dewa Ngakan Putu Adnyana, masih memiliki beberapa peninggalan. Di antaranya palinggih babaturan dan Gedong Bang yang menjadi stana Ida Rsi Markandeya. “Dulu ada peninggalan terbuat dari batu yang dinamakan Bedau. Bentuknya menyerupai perahu,” kata Ngakan Adnyana. Dari Bedau itu terus keluar air yang biasa dimohon oleh warga guna dijadikan sarana pengobatan, terutama bila ada ternak yang sakit. Sayang, tinggalan tua itu telah rusak dan sebagai pengingat saja, warga mengganti dengan perahu batu baru.
Selain tinggalan tua berupa palinggih, di Pengaji sampai saat ini masih berkembang struktur masyarakat Bali Aga terutama menyangkut keagamaan, yang dinamakan Ulu Apad (delapan tingkatan), mulai dari Kubayan, Kebau, Singgukan, Penyarikan, Pengalian, pemalungan, Pengebat Daun, dan Pengarah. Warga yang tercatat dalam struktur organisasi tradisional ini akan menunaikan tugas sesuai fungsi dan jabatan yang dipegang.

b. Tapak-tapak suci Sang Maharsi
Jejak perjalanan Rsi Markandeya menelusuri tanah Balidwipa, banyak meninggalkan atau ditandai oleh pembangunan tempat suci. Pura itu banyak yang menjadi sungsungan jagat, tak sedikit pula yang di-emong warga desa pakraman. Tempat-tempat suci yang berhubungan dengan Rsi Markandeya di Bali meliputi Pura Basukian di kaki Gunung Agung (Gunung Tolangkir), tepatnya di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Semula, lokasi pura merupakan tempat yajnya tempat Rsi Markandeya menanam kendi yang berisi Pancadatu, lima jenis logam mulia. Seperti perunggu, emas, perak, tembaga, dan besi. Tujuannya, supaya Maharsi beserta pengikutnya mendapat keselamatan. Lamat-lamat komplek pura Basukian dikenal dengan nama Besakih.
Berikutnya ada Pura Pucak Cabang Dahat. Tempat suci ini berlokasi di Desa Puwakan, Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Pura ini dibangun sebagai tanda pertama kali Maharsi beserta pengikutnya melakukan perabasan hutan setelah menggelar yajnya di kaki Gunung Agung. Setelah sukses merabas hutan, Maharsi Markandeya kemudian membagi-bagikan lahan kepada pengikutnya guna dijadikan pemukiman dan areal pertanian.
Masih di wilayah Desa Taro, Rsi Markandeya juga membangun Pura Gunung Raung, sebagai tempat panyawangan (perwakilan) Gunung Raung yang terdapat di Desa Sugih Waras, Kecamatan Glanmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sebab dari tempat itulah pertama kali sang Rohaniwan mendapat wangsit sebelum datang ke Bali.
Di kawasan Ubud ada dua tempat suci sebagai pertanda kedatangan Rsi Markandeya, yakni Pura Pucak Payogan di Desa Payogan dan Pura Gunung Lebah di Campuhan, Ubud, Kabupaten Gianyar. Setelah berhasil merabas hutan di Besakih, Rsi Markandeya kemudian bersemadi. Dalam semadinya menemukan satu titik sinar terang. Selanjutnya Rohaniwan ini menelusuri sinar yang ditemukan dalam beryoga, hingga sampai pada satu tempat agak tinggi ditumbuhi hutan lebat. Pada lokasi dimaksud Rsi Markandeya melakukan yoga semadi. Nah, di tempat Maharsi beryoga itulah selanjutnya berdiri Pura Pucak Payogan. Sekitar dua kilometer arah tenggara Pucak Payogan, tepatnya di Campuhan Ubud, Rsi Markandeya mendirikan tempat suci Gunung Lebah. Pura ini dibangun sebagai tempat sang yogi melakukan penyucian diri dari segala mala petaka atau tempat panglukatan dasa mala.
Dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandeya ada ditegaskan:
Mwah ri pangiring banyu Oos ika hana Wihara pasraman sira rsi Markandya iniring para sisyan ira, makadi kula wanduan ira sira sang Bhujangga Waisnawa….”
Artinya : “Di pinggir sungai Oos itu terdapat sebuah Wihara sebagai pasraman Ida Maharsi Markandeya disertai oleh muridnya, seperti sanak keluarga sang Bhujangga Waisnawa”.
Ketika melanjutkan perjalanan ke wilayah Parhyangan (Payangan), sesuai yang tersurat di buku Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini, karangan Gde Sara Sastra, bahwa Maharsi Markandeya juga membangun tempat suci Murwa (Purwa) Bhumi. Pura dimaksud berlokasi di Desa Pakraman Pengaji, dan warga setempat meyakini di tempat itulah Maharsi dari India ini pertama kali (Purwa) memberikan proses pembelajaran kepada para pengikutnya. Pelajaran yang diberikan selain menyangkut agama juga tentang teknologi pertanian.
Setelah berhasil memberikan pengajian, termasuk menjadikan masyarakat Aga di Payangan sukses dalam mengelola pertanian, maka sang Maharsi kembali membangun tempat suci yang diberinama Sukamerih (mencapai kesukaan). Letaknya tepat di seberang jalan Pura Murwa Bhumi. Sesuai penjelasan Bandesa Pakraman Pengaji, Dewa Ngakan Putu Adnyana, kedua pura tadi oleh warga Pengaji diyakini ada saling keterkaitan. Maka, upacara keagamaan juga dilaksanakan secara bersamaan. Pura Pucak Payogan,adalah Tempat Yoga Semadi Mahayogi Markkandeya. Dan Tempat ini tempat beliau moksa sebagai akhir penjalanan Dharmayatra beliau.



2. MPU SANGKULPUTIH
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak. Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual. Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll. Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.
Murid Danghyang Markandeya ini melanjutkan ajaran sang guru dengan memberikan warna/variasi pada bentuk bebali yang ada dengan menambahkan dekorasi yang menarik dan beragam sesuai dengan tujuan bebali itu disajikan dari berbagai jenis dedaunan, buah-buahan, biji-bijian dan lain-lain sebagai ekspresi mengagungkan Sang Hyang Widhi. Beliau juga mempelopori pembuatan arca (pralingga) dewa-dewa sebagai media yang membantu umat untuk memfokuskan konsentrasi dalam melakukan puja demikian pula dengan enetapan hari-hari penting ajaran Hindu Bali, seperti: Galungan, Kungingan, Pagerwesi, Nyepi dan lain-lain.Dalam konteks pengaturan bermasyarakat, tata pimpinan yang diperkenalkan beliau adalah jabatan Dukuh, Prawayah dan KabayanMpu Sangkulputih adalah seorang sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakihdan pura-pura atau tempat suci lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.
Setelah Danghyang Markandeya moksa, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis yadnya (banten) dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti:
·                     daun sirih,
·                     daun pisang,
·                     daun janur,
·                     buah-buahan:
·                     pisang,
·                     kelapa, dan
·                     biji-bijian:
·                     beras,
·                     injin,
·                     kacang komak.



Bentuk tetandingan banten yang diciptakan antara lain :
1.                  Canang sari,
2.                  Canang tubugan,
3.                  Canang raka,
4.                  Daksina,
5.                  Peras,
6.                  Panyeneng,
7.                  Tehenan,
8.                  Segehan,
9.                  Lis,
10.              Nasi panca warna,
11.              Prayascita,
12.              Durmenggala,
13.              Pungu-pungu,
14.              Beakala,
15.              Ulap ngambe, dll.
Tetandingan Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya :
·                     Galungan,
·                     Kuningan,
·                     Pagerwesi,
·                     Nyepi, dll.

3.        MPU KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali. Seperti disebutkan oleb R. Goris pada masa Bali Kuna berkembang suatu kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan (Ardhana 1989:56). Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa istadewatalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah.Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya yang menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa didalam tubuh masyarakat Bali Aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negative pada hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Akibat yang bersifat negative ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur yang oleh Gunaprya Dharmapatni sudah dikenal sejak dahulu semasih beliau ada di Jawa Timur. Oleh karena itu Raja Gunaprya Dharmapatni/Udayana Warmadewa bersekepatan untuk mendatangkan 4 orang Brahmana bersaudara yaitu:
a.       Mpu Semeru, dari sekte Ciwa tiba di Bali pada hari jumat Kliwon, wuku Pujut, bertepatan dengan hari Purnamaning Kawolu, candra sengkala jadma siratmaya muka yaitu tahun caka 921 (999M) lalu berparhyangan di Besakih.
b.      Mpu Ghana, penganut aliran Gnanapatya tiba di Bali pada hari Senin Kliwon, wuku Kuningan tanggal 7 tahun caka 922 (1000M), lalu berparhyangan di Gelgel.
c.       Mpu Kuturan, pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M), selanjutnya berparhyangan di Cilayukti (Padang)
d.      Mpu Gnijaya, pemeluk Brahmaisme tiba di Bali pada hari Kamis Umanis, wuku Dungulan, bertepatan sasih kadasa, prati padha cukla (tanggal 1), candra sengkala mukaa dikwitangcu (tahun caka 928 atau 1006M) lalu berparhyangan di bukit Bisbis (Lempuyang).
Sebenarnya keempat orang Brahmana ini di Jawa Timur bersaudara 5 orang yaitu adiknya yang bungsu bernama Mpu Bharadah ditinggalkan di Jawa Timur dengan berparhyangan di Lemahtulis, Pajarakan. Kelima orang Brahmana ini lazim disebut Panca Pandita atau “Panca Tirtha” karena beliau telah melaksanakan upacara “wijati” yaitu menjalankan dharma “Kabrahmanan”. Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bata Anyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu :
a.       Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua siding
b.      Dari pihak Ciwa diwakili oleh Mpu Semeru
c.       Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran.  Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha. Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:
a.       Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)
b.      Pura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
c.       Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
Ketiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali. Sekaligus dengan dikristalisasinya seluruh sekta tersebut dalam pemujaan kepada Tri Murti menjadi landasan dalam pembangunan Desa Krama (Pakraman) atau desa Adat di Bali. Sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, social, dan spiritual. Jika sebelum keempat Brahmana tersebut semua prasasti ditulis dengan menggunakan huruf Bali Kuna, maka sesudah itu mulai ditulis dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).
Akhirnya di bekas tempat rapat itu dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan Tiga.Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).
4.        MPU MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra. Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.
5.        MPU JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.
6.        DANGHYANG DWIJENDRA
Pada akhir abad ke – 15, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Selain disebabkan karena faktor dari dalam, yaitu perang saudara (Perang Paregreg) untuk menjadi penguasa di Majapahit, faktor dari luar juga menjadi penyebab keruntuhan salah satu kerajaan Hindu terbesar ini, yakni serangan dari Kerajaan Demak yang beragama Islam. Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam, dimana penduduk di Majapahit dan sekitarnya serta pulau Jawa pada umumnya akhirnya beralih keyakinan ke Agama Islam. Orang – orang Majapahit yang tidak mau beralih agama dari Hindu ke Islam akhirnya memilih meninggalkan Majapahit. Mereka memilih tinggal di daerah Pasuruan, Blambangan, Banyuwangi, dimana sebagian besar masyarakatnyamasih memeluk agama Hindu. Selain itu beberapa diantara mereka bahkan menetap di daerah pegunungan, seperti : Pegunungan Tengger, Bromo, Kelud, Gunung Raung (Semeru). Sedangkan beberapa dari mereka yang masih tergolong arya dan para rohaniawan memilih untuk pergi ke Bali, hal itu disebabkan karena saat itu di Bali pengaruh Agama Hindu masih sangat kuat. Oleh karena itu mereka mencari perlindungan di Bali, selain untuk melarikan diri dari Majapahit dan pengaruh Islam di Jawa.Salah seorang dari rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra. Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Danghyang Nirartha datang ke Bali dalam rangka dharmayatra, akan tetapi dharmayatranya tidak akan pernah kembali lagi ke Jawa. Karena di Jawa (Majapahit) Agama Hindu sudah terdesak oleh Agama Islam. Namun kendatipun demikian, ternyata Danghyang Nirartha juga mempelajari agama Islam, bahkan Beliau menguasai Agama Islam, tetapi keislamannya tidak sempurna. Ini terbukti dari pengikut – pengikutnya, yaitu orang – orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Telu (Islam Tiga).
Terlepas dari hal tersebut, Danghyang Nirartha adalah penganut Agama Hindu yang sempurna. Seperti para leluhurnya, Danghyang Nirartha memeluk Agama Siwa, yang lebih condong ke Tantrayana. Agama Siwa yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha adalah Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa. Dari tiga aspek ini Sadasiwalah yang diagungkannya. Untuk itu, dibuatkanlah pelinggih khusus yakni Padmasana, dari sinilah Sadasiwa atau Tuhan Yang Maha Esa,Yang Maha Kuasa, Yang Maha Ada, yang bersifat absolut, dan dipuja oleh semuanya. Oleh karena itu, setiap pura harus memiliki pelinggihPadmasana. Dengan demikian Danghyang Nirartha menjadi pembaharu Agama Hindu di Bali. Nirartha merupakan pencipta arsitektur padmasana untuk kuil Hindu di Bali. Kuil-kuil ini dianggap oleh para pengikut sebagai penjelmaan dari Shiva yang agung. Semasa perjalanan Nirartha, jumlah kuil-kuil di pesisir pantai di Bali bertambah dengan adanya kuil padmasana.
Pada waktu melakukan Dharmayatra ke Bali dari Daha, Jawa Timur. Danghyang Nirartha banyak mendirikan Pura – Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain. Pura-pura yang didirikan oleh Danghyang Nirartha ini dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Selain di Bali, Danghyang nirartha juga melakukan dharmayatra ke Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Tuan Semeru. Sedangkan di Lombok dikenal dengan sebutan Haji Duta Semu, dan di Bali Danghyang Nirartha dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Di Bali, Danghyang Nirartha menetap di Desa Mas. Dari sinipun Danghyang Nirartha menikahi anak bendesa Mas. Dari pernikahan in Danghyang Nirartha memiliki putra : Ida Timbul, Ida Alngkajeng, Ida Penarukan, dan Ida Sigaran. Ada dua Bhisama dari danghyang nirarta kepada seluruh keturunannya, yaitu;
a.       Seluruh keturunannya tidak diperkenankan menyembah pratima (arca – arca  perwujudan).
b.       Seluruh keturunanya tidak diperkenankan sembahyang di Pura yang tidak memakai atau tidak ada pelinggih Padmasana.
Dalam hal keyakinan (Agama Hindu) dapat dilihat peninggalannya berupa padmasana. Walaupun dalam Bhisamanya Danghyang nirarta melarang semua keturunanya menyembah pratima (arca – arca perwujudan), namun Danghyang Nirarhta mengagungkan Sadasiwa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, yang Maha Segalanya dan hampir di semua pura di Bali saat ini terdapat pelinggih padmasana untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya setelah mendiksa semua putra-putranya menjadi pedanda, lalu Danghyang Nirartha menuju Pura Luhur Uluwatu dan mencapai moksa di sana.
Hingga saat ini, peninggalan Danghyang Nirartha masih daat di lihat, seperti pura – pura  di Bali yang dikenal dengan nama Pura Dang Kahyangan

2.3  Perkembangan Agama Hindu Setelah Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Di Bali Sampai Sekarang
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja, Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun 1925 di Singaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Februari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 November tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali , yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan bahwa kehidupan agama Hindu di Bali sudah berkembang sejak lama dan karateristik Hindu Dharma yang universal sejak awalnya tetap dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata yang dikenal di Bali dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni hubungan yang harmoni dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama dan dengan bumi serta lingkungannya




























BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan terkait dengan perkembangan Agama Hindu di Bali sebagai berikut.
1.      Masuknya agama Hindu di Bali diperkirakan sebelum abad ke-8 Masehi, karena pada abad ke-8 telah dijumpai fragmen-fragmen prasasti yang didapatkan di Pejeng berbahasa Sanskerta. Selain itu ditemukan pula Arca tersebut merupakan satu tipe (style) dengan arca-arca Siva dari candi Dieng yang berasal dari abad ke-8 yang menurut Stutterheim tergolong berasal dari periode seni arca Hindu Bali. Dalam prasasti Sukawana, Bangli yang memuat angka 882 Masehi, menyebutkan adanya tiga tokoh agama yaitu Bhiksu Sivaprajna, Bhiksu Siwa Nirmala dan Bhiksu Sivakangsita membangun pertapaan di Cintamani, menunjukkan kemungkinan telah terjadi sinkretisme antara Siva dan Buddha di Bali dan bila kita melihat akar perkembangannya kedua agama tersebut sesungguhnya berasal dari pohon yang sama, yakni agama Hindu.
2.      Adapun tokoh-tokoh yang ikut serta dalam penyebaran dan pengembangan Agama Hindu di Bali antara lain.Danghyang Markandeya, Mpu Sangkulputih, Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, Danghyang Dwijendra.
3.      Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja, sampai terbentuknuya Parisadha Hindu di Bali, sehingga menunjukkan kehidupan agama Hindu di Bali sudah berkembang sejak lama dan karateristik Hindu Dharma yang universal sejak awalnya tetap dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata yang dikenal di Bali dengan ajaran Tri Hita Karana, yakni hubungan yang harmoni dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama dan dengan bumi serta lingkungannya.


3.2. Saran
Adapun saran untuk pembaca diantaranya :
3.2.1. Agar membaca dengan teliti isi dari karya tulis ini agar tahu betul perkembangan Agama Hindu di Bali.
3.2.2. Umat Hindu diharapkan menggunakan Konsep-konsep yang sesua dengan apa yang telah disetujui oleh tokoh-tokoh hindu di Bali, tanpa mengilangkan budaya yang telah ada di masing-masing daerah, sehingga akan berkombinasi budaya lokal dengan ajaran agama Hndu.