![]() |

BAB I
Pendahuluan
Om Swastyastu
Puja dan Puji Syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang
Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kertha Wara NugrahanNya
lah makalah yang berjudul “Manusa Yadnya
“ ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
kami menyadari bahwa isi makalah ini masih banyak
kekurangan, untuk itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Agar makalah
yang kami buat dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
BAB II
Isi
A. Pengertian Manusa Yadnya
Sebelum kita membahas pengertian manusa yadnya , timbul pertanyaan,
kenapa manusia dilahirkan ?? Sebagaimana kita ketahui bersama berdasarkan
sastra dan dan keyakinan umat beragama hindu bahwa menjelma kembali ”
reinkarnasi ” menjadi manusia adalah merupakan anugrah Ida Sang Hyang Widhi
Wasa kepada yang bersangkutan untuk memperbaiki karmanya yang kurang baik pada
dulu menjadi lebih baik, sehingga pada suatu saat nanti dapat bersatu dengan
Sang Pencipta. Demikianlah menjelma kembali sebagai manusia adalah merupakan
kesempatan yang sangat baik, karena dapat memperbaiki kesalahan, kekurangan dan
keburukan yang pernah dilakukan pada penjelmaan terdahulu yang mengantarkan
bersangkutan mesti menjelma kembali.
Jadi berdasarkan hal tersebut pengertian manusa yadnya adalah korban
suci yang tulus untuk memelihara dan menyucikan lahir bhatin manusia sejak
terjadi pembuahan dalam kandungan sampai akhir hidupnya. Pembersihan dan
penyucian lahir bhatin manusia selama hidupnya dipandang perlu agar dapat
menerima ilham atau petunjuk dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga dalam
hidupnya tidak menempuh jalan sesat melainkan dapat berfikir, berbicara dan
berbuat baik dan benar.
B. Jenis Dan Makna Upacara Manusa Yadnya
Berikut ini jenis-jenis dan makna dari upacara
manusa yadnya :
1. Pegedong-Gedongan (Garbhadhana Samskara)
Upacara ini ditujukan kehadapan si bayi yang ada di
dalam kandungan dan merupakan upacara yang pertama kali dialami sejak
terciptanya sebagai manusia. Oleh karenanya upacara ini dilakukan setelah
kehamilan berumur 5 bulan ( 6 bulan kalender ) sebelum bayi itu lahir.
Kehamilan yang berumur di bawah 5 bulan dianggap jasmani si bayi belum
sempurna, dan tidak boleh diberi upacara manusa yadnya (menurut lontar kuno
dresthi).
Tujuannya adalah untuk membersihkan dan mohon
keselamatan jiwa raga si bayi, agar kelak menjadi orang yang berguna
dimasyarakat (kalau laki-laki menjadi pahlawan pembela negara/titundung musuh
dan kalau perempuan menjadi istri yang utama).
2. Bayi Lahir (Jatakarma Samskara)
Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan.
Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di
dunia.
Upacara ini dilaksanakan di dalam dan di depan pintu
rumah dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan, demikian
juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Dan jika tidak ada keluarga tertua,
misalnya, hidup di rantauan, sang ayah dapat melaksanakan upacara ini.
3. Kepus Puser
Apabila puser si bayi sudah lepas (kepus), dibuatkan
suatu upakara yang bertujuan untuk membersihkan secara rokhaniah tempat-tempat
suci, dan bangunan yang ada disekitarnya, seperti sanggah kamulan, sumur,
dapur, bale dsbnya.
Puser di bayi dibungkus dengan secarik kain, lalu
dimasukkan kedalam sebuah tipat (tipat kukur), disertai dengan anget-anget
(sejenis rempah-rempah, seperti sintok, mesui, katik tengkeh, dsbnya), kemudian
digantungkan di tempat tidur si bayi agak ke tebenan (hilir). Kepada si ibu
mulai diberi makan berjenis-jenis ikan/daging dan lauk pauk lainnya. Hal ini
bertujuan agar si bayi terlatih terhadap berjenis-jenis ikan/daging. Seperti
diketahui banyak orang yang tidak berani (tubuhnya tidak tahan terhadap ikan
laut atau daging babi misalnya.
Selain dari pada itu mulai saat itu si bayi diasuh
oleh sang hyang kumara dan untuk beliau dibuatkanlah sebuah tempat di atas
tempat tidur si bayi yang disebut pelangkiran (kemara).
Menurut mithologi (lontar siwa-gama) sang hyang
kumara adalah salah satu putra bhatara siwa dan beliau dikutuk tetap berwujud
anak-anak agar tidak termakan / terbunuh oleh kakaknya (dewa gana). Dan untuk
selanjutnya sang hyang kumara ditugaskan oleh ayahnya untuk mengasuh / untuk
melindungi anak-anak yang belum maketus (lepas gigi).
4. Upacara Ngelepas Hawon
Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara
yang disebut Upacara Ngelepas Hawon. Sang anak biasanya baru diberi nama (nama
dheya) demikian pula sang catur sanak atau keempat saudara kita setelah dilukat
berganti nama di antaranya: Banaspati Raja, Sang Anggapati, Banaspati dan
Mrajapati.
Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah pekarangan
yaitu di sumur (permandian), di dapur, serta di sanggah kamulan.
Untuk melaksanakan upacara ini dipimpin oieh
keluarga yang paling dituakan.
5. Upacara Kambuhan(Satu Bulan Tujuh Hari)
Setelah si bayi berumur satu bulan tujuh hari (42
hari), diadakanlah upacara yang sering disebut “upacara macolongan”. Dalam
upacara ini disamping pembersihan jiwa raga si bayi dari segala noda dan
kotoran, juga bertujuan untuk mengembalikan nyama bajang si bayi dan
pembersihan si ibu agar dapat memasuki tempat-tempat suci seperti merajan, pura
dsbnya. Dalam hal ini perlu dibedakan antara “catur sanak” dengan “nyama
bajang”.
Catur sanak berarti saudara empat. Yang dimaksud
dalam hal ini adalah empat unsur (benda beserta kekuatannya) yang dianggap
sangat membantu pertumbuhan dan keselamatan si bayi sejak mulai terciptanya di
dalam kandungan sampai dia lahir. Wujud dari pada saudara empat itu adalah :
darah, lamad, yeh nyom, dan ari-ari. Nama dari saudara empat ini akan
berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan dan setelah
lahir, sehingga akan dapat banyak nama untuk mereka. Oleh karean sang catur
sanak itu dianggap sangat berjasa, maka diajurkan agar setiap orang tidak
melupakan mereka baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.
Kemudian yang dimaksud dengan nyama bajang adalah
semua kekuatan-kekuatan yang membantu sang catur sanak di dalam kandungan,
dalam proses pertumbuhan, penyempurnaan jasmani serta keselamatan si bayi.
Menurut penjelasan beberapa sulinggih banyak nyama
bajang ini adalah 108 misalnya : bajang colong, bajang bukal, bajang yeh,
bajang tukad, bajang ambengan, bajang papah, bajang lengis, bajang dodot,
dllnya.
Setelah bayi itu lahir maka nyama bajang ini
dianggap tidak mempunyai tugas lagi, bahkan kadang sering mengganggu si bayi.
Oleh akrena itu pada waktu si bayi berumur 42 hari dianggap sudah waktunya
untuk mengembalikan mereka ketempatnya masing-masing (keasalnya).
Disamping itu untuk pertama kalinya si bayi
dimohonkan pengelukatan kehadapan Bhatara Brahma (di dapur), Bhatara Wisnu
(permandian), dan Bhatara Siwa / Hyang Guru (disanggah kemulan).
6. Upacara Tiga Bulanan (Nyambutin)
Upacara ini disebut pula upacara “nelu-bulanin”.
Tujuannya adalah agar jiwa-atma si bayi benar-benar kembali berada pada
raganya. Disamping itu upacara ini juga merupakan pembersihan serta penegasan
nama si bayi. Serangkaian dengan upacara ini biasanya dilakukan pula upacara
turun tanah.
Tujuannya adalah untuk mohon waranugraha kehadapan
ibu pertiwi bahwa si anak akan menginjak kakinya dan agar beliau melindungi /
mengasuhnya.
Upacara ini dilakukan pada saat anak berusia 105
hari. Bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya, keluarga itu tinggal di
rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si
anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, upacara bisa ditunda. Biasanya
digabungkan dengan upacara 6 bulan.
Seluruh rangkaian upacara bayi tiga bulan
dilaksanakan di lingkungan rumah.
Upacara ini dipimpin oleh Pandita atau Pinandita.
7. Upacara Satu Oton (6 Bulan)
Ini upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210
hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus
kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam
kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.
Upacara ini bertujuan untuk memperingati hari
kelahiran dan biasanya diikuti dengan upacara pemotongan rambut yang pertama
kali (magundul), yang bertujuan untuk membersihkan siwa-dwara (ubun-ubun).
Upacara ini sering pula dilakukan setelah si bayi berumur 3 oton. Hal ini
mungkin bermaksud untuk menjaga kesehatan si bayi. Tetapi sering juga upacara
pengguntingan pertama dilakukan pada waktu tiga bulan, hanya saja tidak
digundul sampai bersih, melainkan merupakan simbolis saja. Demikian pula
menurut lontar-lontar upacara turun tanah dilakukan pada waktu otonan yang
pertama kali ini. Tetapi kalau diperhatikan, anak-anak sekarang telah mulai
belajar berjalan sebelum berumur satu oton.
Dan tujuan dari pada upcara turun tanah itu adalah
mohon waranugraha kehadapan ibu pertiwi, maka kiranya upacara tersebut baiknya
dilakukan sebelum si bayi belajar berjalan. Di samping si bayi untuk pertama
kali diperkenalkan kehadapan ida betara betari yang ada di dasarnya, yaitu
diwujudkan dengan menghaturkan pejati / pesaksi ke bale agung (pura desa).
Dan seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di
rumah. Upacara dipimpin oieh pandita / pinandita atau oleh keluarga tertua.
8. Upacara tumbuh gigi (Ngempugin)
Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi
yang pertama. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh
dengan baik. Upacara ini disebut pula ngempugin dan sedapat mungkin dilakukan
pada waktu matahari mulai terbit.
Tujuan adalah untuk memohon kehadapan Bhatara Surya,
Bhatara Brahma, dan Dewi Sri agar gigi si bayi tumbuh dengan baik, putih
bersih, tidak jamuran / candawanan atau dimakan ulat.
Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita /
pinandita atau salah seorang anggota keluarga tertua.
9. Maketus (Lepas Gigi)
Upacara ini disebut juga makupak. Upacara ini
dilaksanakan apabila si anak sudah lepas giginya (maketus untuk pertama
kalinya). Pada upacara ini dibuatkanlah upacara yang agak berbeda dengan yang
sudah-sudah, yaitu pabyakalaan dan sesayut / tatebasan. Mulai saat itu dia
tidak diperkenankan lagi untuk natab jejanganan dan penyambutan, melainkan
diganti dengan pabyakalaan dan sesayut / tatebasan (sesayut pangerti swara).
Menurut lontar siwa gana si anak tidak lagi diasuh
oleh sang hyang kumara, oleh karena itu tidak perlu lagi membuat banten kumara.
Si anak mulai mempersiapkan diri untuk mepelajari
pengetahuan. Upakara-upakara dalam hal ini tidaklah begitu banyak, dan biasanya
dilakukan pada waktu otonan berikutnya, yaitu dilengkapi dengan pabyakalaan dan
sesayut / tatebasan. Mengenai jenis sesayut / tatebasan yang dimaksudkan
sebaiknya mohon petunjuk kehadapan tukang / orang yang dianggap tahu.
Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah.
Upacara ini dipimpin oleh keluarga tertua.
10. Upacara Menek Deha (Munggah Deha / Teruna)
(Rajaswala)
Sebagai tanda kedewasaan bagi seorang laki-laki
adalah suaranya mulai membesar (ngembakin), sedangkan tanda kedewasaan bagi
seorang wanita adalah untuk pertama kalinya dia mengalami datang bulan (haid).
Sejak itu seseorang merasakan getaran-getaran samara
karena dewa asmara mulai menempati lubuk hatinya. Upacara-upacara dalam hal ini
terutama ditunjukkan kehadapan sang semara ratih, dengan penghargaan agar
beliau benar-benar dapat menjadi pembimbing dan teman hidup yang baik, berguna
serta tidak menyesatkan hidup orang yang bersangkutan. Demikianlah orang yang
meningkat dewasa itu disimbulkan kawin dengan sang hyang semara ratih.
Biasanya upacara meningkat dewasa ini dititik
beratkan pada orang perempuan. Hal ini mungkin disebabkan karena kaum wanita
dianggap sebagai kaum lemah, dan lebih memungkinkan untuk menanggung akibat
perbuatan samara yang tersesat. Lain dari pada itu kiranya moral kaum wanita
dapat dianggap sebagai barometer tinggi rendahnya, tegak runtuhnya moral suatu
bangsa.
Upacara ini dilaksanakan di rumah. Dipimpin oleh
Pandita / Pinandita atau yang tertua di dalam lingkungan keluarga.
11. Upacara Potong Gigi (Mapandes)
Upacara ini dapat dijadikan satu dengan upacara
meningkat dewasa, dan mapetik, dan penambahan upakaranya tidaklah begitu
banyak. Upacara ini bertujuan untuk mengurangi sad ripu dari seseorang dan
sebagai simbulnya akan dipotong 6 buah gigi atas (4 buah gigi dan 2 taring).
Yang dimaksud dengan sad ripu adalah 6 sifat manusia
yang dianggap kurang baik, bahkan sering dianggap sebagai musuh didalam diri
sendiri. Keenam sifat tersebut ditimbulkan oleh budi rajas dan budi tamas.
Sebenarnya kita sebagai manusia memiliki 3 budi
yaitu : budi rajas, budi tamas, budi satwam, sedangkan pada binatang memiliki 2
budi yaitu : budi rajas, dan budi tamas. Oleh karena itu segala
pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh budi rajas, dan budi tamas kiranya
dapat dianggap sebagai sifat-sifat kebinatangan yang tidak selayaknya menguasai
diri kita sebagai manusia ini bukannya berarti bahwa budi rajas, dan tamas
beserta pengaruh-pengaruhnya itu tidak perlu, tetapi hendaknya ada keseimbangan
antara budi rajas, tamas dan budi satwam sebagai penuntunnya.
Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan
di rumah dan di pemerajan. Upacara potong gigi dilaksanakan oleh
Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana
langsung).
12.Upacara Mawinten
Upacara ini bertujuan untuk mohon waranugraha akan
mempelajari ilmu pengetahuan seperti kesusilaan, keagamaan, weda dsbnya.
Pemujaan disini diutamakan kehadapan tiga dewa yaitu
: Bhatara Guru sebagai pembimbing (guru), Bhatara Gana, sebagai pelindung serta
pembebas dariss egala tantangan / kesukaran, dan Dewi Saraswati sebagai dewi
penguasa ilmu pengetahuan.
13. Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha)
Hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan
Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan
telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.
Upacara perkawinan adalah merupakan persaksian baik
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maupun kepada masyarakat bahwa kedua orang
tersebut mengikatkan diri sebagai suami istri, dan segala akibat perbuatannya
menjadi tanggung jawab mereka bersama. Disamping itu upacara tersebut juga merupakan
pembersihan terhadap “sukla swanita” (bibit) serta lahir bathinnya.
Hal ini dimaksud agar bibit dari kedua mempelai
bebas dari pengaruh-pengaruh buruk (gangguan bhuta kala), sehingga kalau
keduanya bertemu (terjadi pembuahan) akan terbentuklah sebuah manik yang sudah
bersih. Dengan demikian diharapkan agar roh yang akan menjiwai manik itu adalah
roh yang baik/suci, dan kemudian akan lahirlah seorang anak yang berguna di
masyarakat menjadi idaman orang tuanya). Lain dari pada itu, dengan adanya
upacara perkawinan secara agama hindu, berarti pula bahwa kedua mempelai telah
memilih agama hindu serta ajaran-ajarannya sebagai pegangan hidup didalam
membina rumah tangganya.
Untuk waktu pelaksanaanya biasanya dipilih hari yang
baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa). Dan tempat
pelaksanaannya dapat dilakukan di rumah mempelai iaki-laki atau wanita sesuai
dengan hukum adat setempat (desa, kala, patra). Upacara ini dipimpin oleh
seorang pendeta / pinandita / wasi / pemangku.
Tata cara :
-
Sebelum upacara natab banten
pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
-
Kemudian mempelai mengelilingi sanggah
Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual
beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan
perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
-
Sebagai acara terakhir dilakukan
mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Panca yadnya merupakan korban suci yang tulus iklas yang didasari atas
rasa bhakti dan kasih sayang serta tanpa pamrih.Yadnya memiliki lima pembagian
(panca yadnya), yaitu dewa yadnya, manusa yadnya, butha yadnya, pitra yadnya
dan rsi yadnya.Pelaksanaan yadnya ini bukan ditentukan oleh tingkatan yadnya,
namun oleh tri guna.Karena bagaimanapun besarnya sebuah upacara, jika tanpa
didasari oleh ketulusan, iklas,bhakti, kasih sayang dan tanpa pamrih(phala).
Upacara tersebut tidak akan menjadi sempurna (kurang bermakna).
Saran
Berdasarkan uraian diatas hendaknya kita menyadari bahwa nilai sebuah
yadnya bukan ditentukan oleh tingkatan yadnya, namun bagaimana cara kita
belajar untuk iklas, tulus, penuh kasih sayang dan didasari oleh hati yang suci
nirmala dalam melaksanakan sebuah pengorbanan (yadnya).
