Selasa, 08 November 2016

makalah tentang manusa yadnya


 


BAB I
Pendahuluan

Om Swastyastu
          Puja dan Puji Syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Kertha Wara NugrahanNya lah makalah yang berjudul “Manusa Yadnya  “ ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
          kami menyadari bahwa isi makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan  kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Agar makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.











BAB II
Isi

A. Pengertian Manusa Yadnya

Sebelum kita membahas pengertian manusa yadnya , timbul pertanyaan, kenapa manusia dilahirkan ?? Sebagaimana kita ketahui bersama berdasarkan sastra dan dan keyakinan umat beragama hindu bahwa menjelma kembali ” reinkarnasi ” menjadi manusia adalah merupakan anugrah Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada yang bersangkutan untuk memperbaiki karmanya yang kurang baik pada dulu menjadi lebih baik, sehingga pada suatu saat nanti dapat bersatu dengan Sang Pencipta. Demikianlah menjelma kembali sebagai manusia adalah merupakan kesempatan yang sangat baik, karena dapat memperbaiki kesalahan, kekurangan dan keburukan yang pernah dilakukan pada penjelmaan terdahulu yang mengantarkan bersangkutan mesti menjelma kembali.
Jadi berdasarkan hal tersebut pengertian manusa yadnya adalah korban suci yang tulus untuk memelihara dan menyucikan lahir bhatin manusia sejak terjadi pembuahan dalam kandungan sampai akhir hidupnya. Pembersihan dan penyucian lahir bhatin manusia selama hidupnya dipandang perlu agar dapat menerima ilham atau petunjuk dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga dalam hidupnya tidak menempuh jalan sesat melainkan dapat berfikir, berbicara dan berbuat baik dan benar.

B. Jenis Dan Makna Upacara Manusa Yadnya

Berikut ini jenis-jenis dan makna dari upacara manusa yadnya :

1. Pegedong-Gedongan (Garbhadhana Samskara)

Upacara ini ditujukan kehadapan si bayi yang ada di dalam kandungan dan merupakan upacara yang pertama kali dialami sejak terciptanya sebagai manusia. Oleh karenanya upacara ini dilakukan setelah kehamilan berumur 5 bulan ( 6 bulan kalender ) sebelum bayi itu lahir. Kehamilan yang berumur di bawah 5 bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna, dan tidak boleh diberi upacara manusa yadnya (menurut lontar kuno dresthi).
Tujuannya adalah untuk membersihkan dan mohon keselamatan jiwa raga si bayi, agar kelak menjadi orang yang berguna dimasyarakat (kalau laki-laki menjadi pahlawan pembela negara/titundung musuh dan kalau perempuan menjadi istri yang utama).


2. Bayi Lahir (Jatakarma Samskara)

Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia.
Upacara ini dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan, demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Dan jika tidak ada keluarga tertua, misalnya, hidup di rantauan, sang ayah dapat melaksanakan upacara ini.


3. Kepus Puser

Apabila puser si bayi sudah lepas (kepus), dibuatkan suatu upakara yang bertujuan untuk membersihkan secara rokhaniah tempat-tempat suci, dan bangunan yang ada disekitarnya, seperti sanggah kamulan, sumur, dapur, bale dsbnya.
Puser di bayi dibungkus dengan secarik kain, lalu dimasukkan kedalam sebuah tipat (tipat kukur), disertai dengan anget-anget (sejenis rempah-rempah, seperti sintok, mesui, katik tengkeh, dsbnya), kemudian digantungkan di tempat tidur si bayi agak ke tebenan (hilir). Kepada si ibu mulai diberi makan berjenis-jenis ikan/daging dan lauk pauk lainnya. Hal ini bertujuan agar si bayi terlatih terhadap berjenis-jenis ikan/daging. Seperti diketahui banyak orang yang tidak berani (tubuhnya tidak tahan terhadap ikan laut atau daging babi misalnya.
Selain dari pada itu mulai saat itu si bayi diasuh oleh sang hyang kumara dan untuk beliau dibuatkanlah sebuah tempat di atas tempat tidur si bayi yang disebut pelangkiran (kemara).
Menurut mithologi (lontar siwa-gama) sang hyang kumara adalah salah satu putra bhatara siwa dan beliau dikutuk tetap berwujud anak-anak agar tidak termakan / terbunuh oleh kakaknya (dewa gana). Dan untuk selanjutnya sang hyang kumara ditugaskan oleh ayahnya untuk mengasuh / untuk melindungi anak-anak yang belum maketus (lepas gigi).
4. Upacara Ngelepas Hawon

Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut Upacara Ngelepas Hawon. Sang anak biasanya baru diberi nama (nama dheya) demikian pula sang catur sanak atau keempat saudara kita setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja, Sang Anggapati, Banaspati dan Mrajapati.
Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah pekarangan yaitu di sumur (permandian), di dapur, serta di sanggah kamulan.
Untuk melaksanakan upacara ini dipimpin oieh keluarga yang paling dituakan.


5. Upacara Kambuhan(Satu Bulan Tujuh Hari)

Setelah si bayi berumur satu bulan tujuh hari (42 hari), diadakanlah upacara yang sering disebut “upacara macolongan”. Dalam upacara ini disamping pembersihan jiwa raga si bayi dari segala noda dan kotoran, juga bertujuan untuk mengembalikan nyama bajang si bayi dan pembersihan si ibu agar dapat memasuki tempat-tempat suci seperti merajan, pura dsbnya. Dalam hal ini perlu dibedakan antara “catur sanak” dengan “nyama bajang”.
Catur sanak berarti saudara empat. Yang dimaksud dalam hal ini adalah empat unsur (benda beserta kekuatannya) yang dianggap sangat membantu pertumbuhan dan keselamatan si bayi sejak mulai terciptanya di dalam kandungan sampai dia lahir. Wujud dari pada saudara empat itu adalah : darah, lamad, yeh nyom, dan ari-ari. Nama dari saudara empat ini akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan dan setelah lahir, sehingga akan dapat banyak nama untuk mereka. Oleh karean sang catur sanak itu dianggap sangat berjasa, maka diajurkan agar setiap orang tidak melupakan mereka baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.
Kemudian yang dimaksud dengan nyama bajang adalah semua kekuatan-kekuatan yang membantu sang catur sanak di dalam kandungan, dalam proses pertumbuhan, penyempurnaan jasmani serta keselamatan si bayi.
Menurut penjelasan beberapa sulinggih banyak nyama bajang ini adalah 108 misalnya : bajang colong, bajang bukal, bajang yeh, bajang tukad, bajang ambengan, bajang papah, bajang lengis, bajang dodot, dllnya.
Setelah bayi itu lahir maka nyama bajang ini dianggap tidak mempunyai tugas lagi, bahkan kadang sering mengganggu si bayi. Oleh akrena itu pada waktu si bayi berumur 42 hari dianggap sudah waktunya untuk mengembalikan mereka ketempatnya masing-masing (keasalnya).
Disamping itu untuk pertama kalinya si bayi dimohonkan pengelukatan kehadapan Bhatara Brahma (di dapur), Bhatara Wisnu (permandian), dan Bhatara Siwa / Hyang Guru (disanggah kemulan).


6. Upacara Tiga Bulanan (Nyambutin)

Upacara ini disebut pula upacara “nelu-bulanin”. Tujuannya adalah agar jiwa-atma si bayi benar-benar kembali berada pada raganya. Disamping itu upacara ini juga merupakan pembersihan serta penegasan nama si bayi. Serangkaian dengan upacara ini biasanya dilakukan pula upacara turun tanah.
Tujuannya adalah untuk mohon waranugraha kehadapan ibu pertiwi bahwa si anak akan menginjak kakinya dan agar beliau melindungi / mengasuhnya.
Upacara ini dilakukan pada saat anak berusia 105 hari. Bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya, keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, upacara bisa ditunda. Biasanya digabungkan dengan upacara 6 bulan.
Seluruh rangkaian upacara bayi tiga bulan dilaksanakan di lingkungan rumah.
Upacara ini dipimpin oleh Pandita atau Pinandita.


7. Upacara Satu Oton (6 Bulan)

Ini upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.
Upacara ini bertujuan untuk memperingati hari kelahiran dan biasanya diikuti dengan upacara pemotongan rambut yang pertama kali (magundul), yang bertujuan untuk membersihkan siwa-dwara (ubun-ubun). Upacara ini sering pula dilakukan setelah si bayi berumur 3 oton. Hal ini mungkin bermaksud untuk menjaga kesehatan si bayi. Tetapi sering juga upacara pengguntingan pertama dilakukan pada waktu tiga bulan, hanya saja tidak digundul sampai bersih, melainkan merupakan simbolis saja. Demikian pula menurut lontar-lontar upacara turun tanah dilakukan pada waktu otonan yang pertama kali ini. Tetapi kalau diperhatikan, anak-anak sekarang telah mulai belajar berjalan sebelum berumur satu oton.

Dan tujuan dari pada upcara turun tanah itu adalah mohon waranugraha kehadapan ibu pertiwi, maka kiranya upacara tersebut baiknya dilakukan sebelum si bayi belajar berjalan. Di samping si bayi untuk pertama kali diperkenalkan kehadapan ida betara betari yang ada di dasarnya, yaitu diwujudkan dengan menghaturkan pejati / pesaksi ke bale agung (pura desa).
Dan seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. Upacara dipimpin oieh pandita / pinandita atau oleh keluarga tertua.


8. Upacara tumbuh gigi (Ngempugin)

Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik. Upacara ini disebut pula ngempugin dan sedapat mungkin dilakukan pada waktu matahari mulai terbit.
Tujuan adalah untuk memohon kehadapan Bhatara Surya, Bhatara Brahma, dan Dewi Sri agar gigi si bayi tumbuh dengan baik, putih bersih, tidak jamuran / candawanan atau dimakan ulat.
Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita / pinandita atau salah seorang anggota keluarga tertua.


9. Maketus (Lepas Gigi)

Upacara ini disebut juga makupak. Upacara ini dilaksanakan apabila si anak sudah lepas giginya (maketus untuk pertama kalinya). Pada upacara ini dibuatkanlah upacara yang agak berbeda dengan yang sudah-sudah, yaitu pabyakalaan dan sesayut / tatebasan. Mulai saat itu dia tidak diperkenankan lagi untuk natab jejanganan dan penyambutan, melainkan diganti dengan pabyakalaan dan sesayut / tatebasan (sesayut pangerti swara).
Menurut lontar siwa gana si anak tidak lagi diasuh oleh sang hyang kumara, oleh karena itu tidak perlu lagi membuat banten kumara.
Si anak mulai mempersiapkan diri untuk mepelajari pengetahuan. Upakara-upakara dalam hal ini tidaklah begitu banyak, dan biasanya dilakukan pada waktu otonan berikutnya, yaitu dilengkapi dengan pabyakalaan dan sesayut / tatebasan. Mengenai jenis sesayut / tatebasan yang dimaksudkan sebaiknya mohon petunjuk kehadapan tukang / orang yang dianggap tahu.
Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah. Upacara ini dipimpin oleh keluarga tertua.


10. Upacara Menek Deha (Munggah Deha / Teruna) (Rajaswala)

Sebagai tanda kedewasaan bagi seorang laki-laki adalah suaranya mulai membesar (ngembakin), sedangkan tanda kedewasaan bagi seorang wanita adalah untuk pertama kalinya dia mengalami datang bulan (haid).
Sejak itu seseorang merasakan getaran-getaran samara karena dewa asmara mulai menempati lubuk hatinya. Upacara-upacara dalam hal ini terutama ditunjukkan kehadapan sang semara ratih, dengan penghargaan agar beliau benar-benar dapat menjadi pembimbing dan teman hidup yang baik, berguna serta tidak menyesatkan hidup orang yang bersangkutan. Demikianlah orang yang meningkat dewasa itu disimbulkan kawin dengan sang hyang semara ratih.
Biasanya upacara meningkat dewasa ini dititik beratkan pada orang perempuan. Hal ini mungkin disebabkan karena kaum wanita dianggap sebagai kaum lemah, dan lebih memungkinkan untuk menanggung akibat perbuatan samara yang tersesat. Lain dari pada itu kiranya moral kaum wanita dapat dianggap sebagai barometer tinggi rendahnya, tegak runtuhnya moral suatu bangsa.
Upacara ini dilaksanakan di rumah. Dipimpin oleh Pandita / Pinandita atau yang tertua di dalam lingkungan keluarga.


11. Upacara Potong Gigi (Mapandes)

Upacara ini dapat dijadikan satu dengan upacara meningkat dewasa, dan mapetik, dan penambahan upakaranya tidaklah begitu banyak. Upacara ini bertujuan untuk mengurangi sad ripu dari seseorang dan sebagai simbulnya akan dipotong 6 buah gigi atas (4 buah gigi dan 2 taring).
Yang dimaksud dengan sad ripu adalah 6 sifat manusia yang dianggap kurang baik, bahkan sering dianggap sebagai musuh didalam diri sendiri. Keenam sifat tersebut ditimbulkan oleh budi rajas dan budi tamas.
Sebenarnya kita sebagai manusia memiliki 3 budi yaitu : budi rajas, budi tamas, budi satwam, sedangkan pada binatang memiliki 2 budi yaitu : budi rajas, dan budi tamas. Oleh karena itu segala pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh budi rajas, dan budi tamas kiranya dapat dianggap sebagai sifat-sifat kebinatangan yang tidak selayaknya menguasai diri kita sebagai manusia ini bukannya berarti bahwa budi rajas, dan tamas beserta pengaruh-pengaruhnya itu tidak perlu, tetapi hendaknya ada keseimbangan antara budi rajas, tamas dan budi satwam sebagai penuntunnya.
Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pemerajan. Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).


12.Upacara Mawinten

Upacara ini bertujuan untuk mohon waranugraha akan mempelajari ilmu pengetahuan seperti kesusilaan, keagamaan, weda dsbnya.
Pemujaan disini diutamakan kehadapan tiga dewa yaitu : Bhatara Guru sebagai pembimbing (guru), Bhatara Gana, sebagai pelindung serta pembebas dariss egala tantangan / kesukaran, dan Dewi Saraswati sebagai dewi penguasa ilmu pengetahuan.


13. Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha)

Hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.
Upacara perkawinan adalah merupakan persaksian baik kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maupun kepada masyarakat bahwa kedua orang tersebut mengikatkan diri sebagai suami istri, dan segala akibat perbuatannya menjadi tanggung jawab mereka bersama. Disamping itu upacara tersebut juga merupakan pembersihan terhadap “sukla swanita” (bibit) serta lahir bathinnya.
Hal ini dimaksud agar bibit dari kedua mempelai bebas dari pengaruh-pengaruh buruk (gangguan bhuta kala), sehingga kalau keduanya bertemu (terjadi pembuahan) akan terbentuklah sebuah manik yang sudah bersih. Dengan demikian diharapkan agar roh yang akan menjiwai manik itu adalah roh yang baik/suci, dan kemudian akan lahirlah seorang anak yang berguna di masyarakat menjadi idaman orang tuanya). Lain dari pada itu, dengan adanya upacara perkawinan secara agama hindu, berarti pula bahwa kedua mempelai telah memilih agama hindu serta ajaran-ajarannya sebagai pegangan hidup didalam membina rumah tangganya.
Untuk waktu pelaksanaanya biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa). Dan tempat pelaksanaannya dapat dilakukan di rumah mempelai iaki-laki atau wanita sesuai dengan hukum adat setempat (desa, kala, patra). Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta / pinandita / wasi / pemangku.
Tata cara :
-        Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
-        Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
-        Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan.





















BAB III
Penutup

Kesimpulan

            Panca yadnya merupakan korban suci yang tulus iklas yang didasari atas rasa bhakti dan kasih sayang serta tanpa pamrih.Yadnya memiliki lima pembagian (panca yadnya), yaitu dewa yadnya, manusa yadnya, butha yadnya, pitra yadnya dan rsi yadnya.Pelaksanaan yadnya ini bukan ditentukan oleh tingkatan yadnya, namun oleh tri guna.Karena bagaimanapun besarnya sebuah upacara, jika tanpa didasari oleh ketulusan, iklas,bhakti, kasih sayang dan tanpa pamrih(phala). Upacara tersebut tidak akan menjadi sempurna (kurang bermakna).

Saran

          Berdasarkan uraian diatas hendaknya kita menyadari bahwa nilai sebuah yadnya bukan ditentukan oleh tingkatan yadnya, namun bagaimana cara kita belajar untuk iklas, tulus, penuh kasih sayang dan didasari oleh hati yang suci nirmala dalam melaksanakan sebuah pengorbanan (yadnya).